Sabtu, 18 Januari 2014

" Belajar " Baik ???









Kebaikan tidak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan kare­nanya berpamrih. Dan perbuatan apapun yang me­ngandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir maupun keuntungan batin.

 
Segala bentuk perbuatan, yang dinamakan baik maupun buruk, adalah akibat dari pada keadaan pikiran, keadaan batin. Baik buruknya setiap per­buatan ditentukan oleh keadaan batin. Oleh karena itu, bukan perbuatan yang harus dirobah, yang harus dilatih atau dipelajari karena perbuatan hanya me­rupakan akibat dari keadaan batin. Yang perlu di­robah adalah batin sendiri, keadaan batin itu sendiri. Bukan dirobah oleh kita, karena kalau demikian, hal itu merupakan suatu perbuatan berpamrih yang lain. Bukan DIRUBAH, melainkan BERUBAH! Jadi, per­buatan yang dinamakan perbuatan baik tidak terpi­sah dari keadaan batin, demikian perbuatan yang dinamakan buruk atau jahat. Batinlah yang menentukan, keadaan batin yang mendorong setiap perbuatan. Kalau batin tenang dan bersih, dapat­kah kita melakukan perbuatan yang buruk dan ja­hat? Sebaliknya, kalau batin keruh dan kacau, ma­na mungkin kita dapat melakukan perbuatan bersih dan baik?

Dan batin baru dalam keadaan hening, tenang, bersih, berimbang, tegak dan lurus, bersih dan be­ning, kalau tidak dikeruhkan dan disibukkan oleh pikiran! Pikiranlah yang membentuk AKU dan si aku inilah yang merajalela mengaduk batin, dengan segala keinginannya, mengejar dan mengulang kese­nangan, mengelak dan menjauhi yang tidak menye­nangkan. Si aku menyeret batin ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan antara baik dan bu­ruk, senang dan susah, puas dan kecewa, suka dan duka, dan setiap saat batin menjadi keruh, menjadi sumber dari segala rasa takut, marah, benci, iri, tamak, prasangka yang menjadi permainan si aku dan akhirnya hanya duka dan sengsara yang menjadi bunga kehidupan kita.

Untuk dapat menyelami semua ini, kita hanya tinggal menjenguk isi batin sendiri, mengamati batin kita sendiri saat demi saat, hidup dalam keadaan sekarang ini, menghapus yang lalu dan menyingkir­kan yang akan datang agar kita dapat sepenuhnya hidup di saat ini. Pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin sajalah yang akan membuat kita waspa­da, tidak lagi menjadi boneka permainan nafsu, ti­dak ada lagi si aku merajalela dan yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran.


Tidak ada komentar: