Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Desember 2013

I Hate the Hijab



Sungguh, ane cuma share aja.... klo males baca, ini ada tautan video yang semoga bisa diambil banyak nasehat dan manfaat

link video ---> I Hate the Hijab
 


Banyak muslimah yg tidak pernah kehabisan alasan klo disuruh berjilbab, ada saja alasan dari A - Z :

kenapa tidak berjilbab ? >> karena gerah
kenapa tidak berjilbab ? >> karena belum siap
kenapa tidak berjilbab ? >> karena takut ketinggalan mode
kenapa tidak berjilbab ? >> karena takut sulit dapat kerja
kenapa tidak berjilbab ? >> karena masih muda
kenapa tidak berjilbab ? >> karena takut tidak ada lelaki yang mendekati
dll

coba iseng² kita "perkeras" pertanyaan ini (dengan kosakata lain)
semua pertanyaan kenapa tidak berjilbab ? diganti dengan kenapa kamu masuk neraka?? dan lihat beberapa jawabannya:

>> karena gerah didunia....
ah ternyata neraka puluhan ribu atau mungkin jutaan, milyaran, trilyunan kali lebih panas.

>> karena belum siap.....
ah ternyata aq lebih tidak pernah siap masuk neraka

>> karena takut ketinggalan mode....
ah ternyata neraka tidak peduli itu, aq bisa bertemu orang dari jaman nabi adam sampai orang akhir jaman dgn model yang sama yaitu hangussss!

>> karena takut sulit dapat kerja....
oh hidupku yang lalu tidak sekedar untuk bekerja agar kaya, tapi lebih untuk beribadah kepada Allah

>> karena masih muda...
lah ternyata dineraka ini ribuan - jutaan tahun, andai aq didunia waktu itu hidup seribu tahun pun pasti merasa masih muda dibanding masa dineraka dan kenapa ku sia-siakan waktu sekejap didunia tersebut jika akhirnya harus dibayar dgn siksa ribuan tahun

>> karena takut tidak ada lelaki yang mendekati....
ya ampun kenapa aq menutup mata waktu itu, bahkan tetangga, teman dekat dan orang disekitar berjilbab dan bisa menikah kenapa sebodoh itu aq dulu membuat alasan
dll

Mantapkan hati, hidup ini tidak hanya sekali. besok ada hidup lagi di kehidupan lain.... enak tidaknya tergantung bagaimana amalan kita di dunia ini sekarang

Rabu, 11 Desember 2013

Hijab ... Dari Hati atau Trend ???







APA JILBAB ITU?

Jilbab atau hijab secara syari’at merupakan bagian pakaian yang wajib digunakan untuk menutupi kepala wanita hingga ke dadanya. Maka, sesuatu pakaian dapat disebut hijab apabila menutupi kepala, leher, hingga dada. Tidak disebut hijab jika hanya menutupi kepala saja, atau leher saja, atau hanya menutup dada saja.




Dalilnya adalah:

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” [QS. An-Nuur 24:31]
Allah tidak memerintahkan kepada para wanita: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung di kepalanya”, atau: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain di dadanya”, tetapi Dia berfirman: “Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya.” Artinya ialah bahwa Allah menghendaki agar para wanita menutup kain dari kepalanya hingga ke dadanya.

Dari ayat ini maka para wanita Muslimah perlu memperhatikan apa yang ia pakai. Apakah benar-benar hijab yang sesuai hukum Allah, ataukah hanya kain yang dihias-hias oleh tukang salon. Ingat, hijab bukanlah mode yang bertujuan membuat wanita lebih cantik, justru hijab dipakai agar wanita terlindungi dari fitnah. Itulah salah satu tujuan syari’at.


Jumat, 25 Januari 2013

Jilbab Gaul: Berpakaian Tapi Telanjang




Pernahkah kita berpikir mengapa begitu banyak perempuan dan wanita muslim yang mengenakan ‘jilbab’, namun berpakaian sangat ‘provokatif,’ misalnya menampakkan lekuk-lekuk kemolekan tubuhnya? Fungsi jilbab yang semestinya diarahkan untuk menutupi aurat, seperti dada dan pinggul, justru malah diabaikan.

Sejatinya, penutup kepala seperti itu bukanlah jilbab dalam perspektif hijab yang disyariatkan Islam. Orang-orang lebih menyebutnya dengan “kerudung gaul”. Atau diistilahkan Milasari Astuti –dalam artikelnya di sebuah situs Islam— dengan istilah “jilbab cekek”, karena memang benar-benar hanya sebatas nyekek leher. Maksudnya, seorang perempuan muslim mengenakan kerudung yang menutupi kepala dan rambutnya, namun berpakaian tipis, transparan, atau ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Semisal, kepala dibalut kerudung atau jilbab, namun berbaju atau kaos ketat, bercelana jean atau legging yang full pressed body, dan lain sebagainya.

Fenomena kerudung gaul atau jilbab cekek adalah fenomena yang sangat membingungkan bagi setiap muslim atau muslimah yang memahami ajaran Islam dengan benar. Ini mengingat, seorang perempuan atau wanita muslim yang mengenakan kerudung gaul, dalam benaknya dia ingin menutup aurat, namun juga ingin tampil pamer modis dan cantik.

Jumat, 30 Maret 2012

Ketika Iblis Membentangkan Sajadah


Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.
Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah.

"Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.
"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"
"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.

"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".

Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.
Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.
Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.
Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan


Jumat, 20 Mei 2011

Iblis dan Tugasnya

Pertama, Iblis yang bernama Tsabar. Iblis ini sering mengunjungi orang-orang yang sedang dalam kesusahan ataupun yang ditimpa musibah. Ia akan membisikkan kata-kata yang tanpa disadari telah diucapkan oleh orang yang mengalami kesusahan itu.
 Orang yang telah ditimpa musibah akan selalu berkeluh kesah dan sering menyalahkan ketentuan Allah SWT terhadap dirinya.
 Inilah peranan iblis Tsabar dalam menyesatkan manusia dari jalan Allah SWT.

Kedua, Iblis yang bernama Dasim. Iblis ini akan selalu berusaha memusnahkan dan menghancurkan kerukunan sebuah rumahtangga. Ia akan selalu meniupkan dan menyuburkan perasaan benci, cemburu dan rasa curiga di antara pasangan suami isteri.

 Apabila terjadi hasutan berupa kehancuran dan kebencian rumah tangga antara suami dan istri, maka terjadilah pertengkaran di antara suami dan isteri lalu diakhiri dengan perceraian. Dan inilah yang disukai iblis bernama Dasim.

Ketiga, Iblis yang bernama Al A'war. Iblis ini selalu menghembuskan dan suka menggalakkan perlakuan zina (melakukan zina) serta kerusakan dan keruntuhan akhlak.

 Salah satu peranannya yang paling penting adalah dengan menjadikan indahnya bagian bawah seorang wanita (mohon maaf jika bahasanya kurang bagus, tapi maksudnya ke arah sana). Lebih lagi terdapat segelintir wanita masa kini yang kian gemar memakai pakaian yang singkat dan seksi (U Can See atau tengtok).

 Sesungguhnya hal inilah yang disukai dan cukup menggembirakan iblis bernama Al A'war karena dapat menlaksanakan tugasnya dengan sangat sempurna.

 Keempat, Iblis yang bernama Maswath. Peranan iblis ini adalah mengadakan pembohongan yang besar dan kecil. Seseorang yang termakan dengan hasutan serta bisikan iblis ini akan me-“reka-reka” sebuah cerita yang tidak benar atau selalu menyebar fitnah, gosip yang terjadi, walaupun hal itu belum tentu benar adanya.

 Kelima, Iblis ini suka berkeliaran ditempat-tempat yang dipenuhi dengan kerumunan manusia. Ia akan membisikkan kata-kata yang mewujudkan permusuhan dan perselisihan sesama manusia. Sehingga ada di antara manusia yang sanggup membunuh sesama sendiri.

Jumat, 26 Oktober 2007

Sepeda, Koran, dan Misrepresentasi


Iklan-iklan inspirasi Idul Fitri pun acap melakukan misrepresentasi. Sebulanan ini, semua televisi memiliki satu "agama". Berbagai acara diciptakan untuk berwajah islami. Bahkan, sinetron kejar tayang yang semula tak ada hubungan dengan syiar keislaman, tiba-tiba berubah drastis. Ceritanya berbelok, pemainnya berganti busana, ketakrasionalannya pun bertambah.

Iklan pun mengalami metamorfosa yang sama, terutama menjelang dan selama Idul Fitri. Berbagai perusahaan, instansi, dan partai politik, berlomba mengiklankan diri, merayakan kefitrian, meminta maaf, dan tentu, tetap menyanjung diri.

Secara sederhana, ada dua jenis iklan idul fitri yang beredar di televisi. Pertama adalah iklan dari petinggi BUMN dan partai politik yang berisi pernyataan maaf dan kampanye diri. Kedua adalah iklan inspiratif dari perusahaan besar yang berisi keindahan idul fitri, nilai pengorbanan, dan saling berbagi.

Iklan-iklan inspiratif itu menggugah dengan cara yang sama, menghadirkan nilai-nilai sederhana yang mulai sulit kita temukan. Iklan itu mengharukan karena menyadarkan bahwa nilai itu adalah sesuatu yang kita miliki tapi jarang kita sadari; kemampuan menahan diri dalam goda, kemauan berbagi, dan kegampangan memaafkan. Iklan itu, meski sebentar, membuat kita percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah benih kebajikan.


Memberi, Berbagi

Beberapa anak berlari riang mengejar sobekan kertas yang diterbangkan angin. Di peron stasiun, remah-remah koran dan kardus-kardus bekas mereka punguti dengan tawa lepas. Di ujung sana, di trotoar jalan, tingkah mereka mengundang tawa pemuda-pemuda bergitar.

Kumpulan kertas bekas itu lalu mereka timbang. Dan wajah cemas mereka segera sirna, ketika sebuah gitar menggenapkan berat kertas mereka. Dengan tertawa, mereka berbelanja berkardus mi, dan membaginya ke panti asuhan Ar-Rahim. Dan di hari Lebaran, dengan bernyanyi, mereka bersalaman. Opick tampak di antara pengurus panti itu. Iklan ditutup dengan ucapan "Warnai hari kemenangan dengan saling berbagi. Selamat Idul Fitri".

Itu memang bukan iklan baru. Setidaknya, tahun lalu iklan itu telah menghiasi hari-hari Lebaran. Namun, meski ulangan, tayangan ini tetap saja terasa indah dan menggugah. Anak-anak pun ternyata tahu tentang bagaimana berbagi dan mengusahakan hal itu dengan jerih mereka sendiri. Anak-anak itu menjadi juru penerang tanpa terasa menggurui.

Iklan kedua yang senada dengan hal di atas bercerita tentang Pak Guru Umar. Istrinya di rumah sakit, dan dia tak punya uang untuk menebus semua biaya. Di ruang kelas, tak ada kemurungan di wajahnya, dia menjadi guru yang baik, menyembunyikan pedihnya dengan memancing tawa murid-murid. Lepas mengajar, lunas juga gembiranya. Hanya suara azan yang mampu menahan dirinya untuk mengambil uang sekolah para murid. Dengan iklas, dia jual sepeda motor bututnya, diiringi tatapan haru para beberapa murid. Menaiki sepeda, mereka bersama ke rumah sakit. Di hari Lebaran, saat bersilaturahmi, para murid menghadiahi sebuah sepeda baru kepada Pak Umar.

Iklan ini terasa begitu mengharukan. Gambarnya sederhana tapi indah, ceritanya menimbulkan rasa sesak di dada. Anak-anak itu, dengan caranya sendiri, tahu bagaimana meringankan beban orang lain. Anak-anak itu adalah tangan firman-Nya yang menjadi kenyataan, yang membayar pengorbanan Pak Umar. Kehadiran anak-anak itu, seperti kata Tagore, adalah tanda bahwa Tuhan belum jera dengan ulah manusia.


Misrepresentasi

Dua iklan di atas dengan nada yang sama berbicara tentang berbagi di hari fitri. Anak-anak dijadikan subjek cerita untuk menekankan betapa kepolosan mereka bukanlah tanda keabaian pada sekitarnya. Kepolosan mereka justru tanda bahwa apa pun yang mereka lakukan jauh dari pamrih. Dan karena itulah, iklan ini terasa menyentuh.

Namun, meski bicara dengan nada yang sama, dua iklan di atas tetap berbeda warna. Perbedaan warna itu terlihat dari kepentingan pengiklan yang masuk ke dalam cerita. Pada iklan pertama, anak-anak itu menjual remah kertas untuk membeli berkardus mi. mi yang mereka bagi ke panti adalah produk Indofood, yakni Indomie. Iklan ini memang dipersembahkan oleh Indomie. Di sinilah, Indomie tidak mampu menahan diri untuk tidak "menonjolkan" produknya pada "pameran" keikhlasan anak-anak itu. Indomie hadir di dalam cerita sebagai produk yang pantas dibagikan di hari nan fitri.

Hal itu tidak terjadi dalam iklan Guru Umar. Anak-anak itu menghadiahkan sepeda, dan iklan ini bukan persembahan dari pabrikan sepeda, malainkan pabrik rokok Djarum. Penghadiran sepeda tak memiliki korelasi apa pun dengan rokok. Di iklan ini, Djarum mampu menahan diri untuk tidak "mempresentasikan" produknya dalam citraan "resmi" mereka selama ini karena larangan visual produk rokok. Iklan itu, tampak "murni" sebagai ajakan tentang keberanian berkorban dan keindahan berbagi. Anak-anak yang hadir di dalam iklan Djarum "mengabarkan" kebaikannya tanpa dibebani pesan sponsor.

Pada iklan Indomie, terkesan kepolosan anak-anak itu dimanfaatkan untuk menonjolkan citra produknya. Sebagai iklan yang mewartakan ketakberpamrihan, iklan ini justru terasa "gagal". Jika anak-anak itu mau mengumpulkan remah kertas sebagai jalan untuk berbagi tanpa mengharap pamrih, Indomie justru membuat iklan ini dengan pamrih. Dengan masuknya produk mereka ke dalam cerita, tampaklah "ajakan berbagi tanpa pamrih" hanya sebagai iklan, pemanis bibir saja. Iklan ajakan itu akhirnya nyaris setara dengan iklan-iklan dari partai politik dan pimpinan BUMN. Ada penonjolan diri pribadi dan atau institusi di dalamnya. Iklan itu dengan demikian hanya berfungsi sebagai ajakan tentang sebuah nilai kemauan untuk berbagi dan bukan contoh nyata sifat berbagi.

Iklan idul fitri Indomie di atas menunjukkan bagaimana terjadinya "misrepresentasi". Sebuah "kesalahan" citra diri yang sangat sering kita lihat dilakukan para politikus, terutama di momen Idul Fitri.