Tampilkan postingan dengan label other's. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label other's. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2014

" Belajar " Baik ???









Kebaikan tidak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan kare­nanya berpamrih. Dan perbuatan apapun yang me­ngandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir maupun keuntungan batin.

Selasa, 24 Desember 2013

Enam Alasan Tidak Dapat Panggilan Kerja







Ceritanya baru lulus nih dan berencana mencari kerja, ya hitung - hitung buat modal nikah dan buka usaha, karena kalau minjam modal buat usaha agak susah dan beresiko, jadilah agan satu dari sekian ratus ribu para pencari kerja di indonesia yang jumlahnya bertambah tiap tahun.

Pertama tentu kita menyiapkan Daftar riwayat hidup / Curriculum Vitae (CV) / Resume dan tentu juga menyiapkan surat lamaran, setelah jadi maka karena kita hidup di jaman internet, tentu kita bukalah lowongan kerja di internet untuk dikirim via email, setelah seharian di warnet mengirim email, agan pulang kerumah berharap-harap cemas menunggu panggilan kerja.

Namun seminggu, sebulan dan sampai lebaran tak ada panggilan yang datang, what the hell happened ??

Jangankan panggilan untuk kerja, untuk sekadar wawancara kerja saja tidak ada panggilan, oh nasib !!

Apakah ada yang salah ??, padahal bila kita melihat jobstreet.com atau jobsdb.com atau petromindo.com, puluhan posisi pekerjaan selalu melambai-lambai minta di isi, tetapi kenapa diriku tidak ada panggilan kerja ??

Oke, beberapa expert yang biasa melakukan perekrutan mungkin bisa memberika sedikit saran mereka kepada kita.



Jumat, 27 April 2012

MUSPRA

Sadar atau tidak, orang sering kali memubazirkan banyak hal. Bahkan untuk mencapai kamukten dan kawibawan, banyak yang secara mendadak berlebihan harta dan janji. Setelah itu, alih-alih mengkritik, tak sedikit pula yang hanya keplok ora tombok, suka berkomentar, tak mau bertindak. Semua sia-sia, muspra.

Semua yang berlebihan itu tidak baik. Bersikap muspra, adalah bukti ketidakmampuan menahan diri. Tak ubahnya anak-anak yang kewaregen (kekenyangan) saat makan, ia belum bisa mengontrol berapa banyaknya makanan yang harus dilahap. Asalkan enak, masih saja memakan. Muspra kemudian sering dikaitkan dengan nafsu duniawi yang selalu lekat dengan manusia.

Ikhwal kesia-siaan, cerita pewayangan telah banyak memberi gambaran. Alkisah, Subali kala itu berjuang bersama adiknya, Sugriwa, untuk menyelamatkan Dewi Tara. Misi penyelamatan itu ditempuh setelah mendapat wangsit dari dewa di tengah usaha mereka untuk talak brata, menahan diri untuk menebus dosa. Subali berpesan kepada adiknya, bila nanti darah yang mangalir dari dalam gua berwarna merah, berarti ia berhasil mengalahkan Maesasura, raksasa yang menculik Dewi. Namun bila darah itu berwarna merah bercampur putih, maka Subali yang kalah. Sugriwa diminta untuk menutup pintu gua supaya raksasa tak bisa keluar.

Beberapa saat setelah peperangan, darah yang keluar ternyata merah bercampur putih. Sugriwa yang berjaga di depan pintu, kaget dan langsung menutupnya. Ia kemudian bergegas pergi, mengikuti Sang Dewi yang telah dahulu melenggang ke kahyangan. Syahdan, mereka menikah. Bathara Indra menganggap Sugriwa berjasa hingga pantas mendapatkan anaknya. Beberapa saat setelah itu, di luar gua, Subali teramat kecewa pada adiknya. Ia sebenarnya menang. Aliran darah yang keluar dari gua adalah milik penculik yang telah dikalahkan. Subali ke kahyangan, hampir membunuh Sugriwa.

Resi Gotama segera menengahi setelah melihat kedua anaknya berlaga. Resi menjelaskan kesalahan Subali, ia dianggap bersalah karena telah mengaku berdarah putih, sumuci-suci. Segala usahanya menebus dosa sia-sia karena kesombongan. “Subali, tanpa guna kowe talak brata taun-taunan, muspra pegaweyanmu, mubadir pegaweyanmu, Subali!“ Bebas Memilih Manusia bebas menentukan pilihan dan tidak dapat menyalahkan orang lain. Karena ia bisa menolak dan menerima pilihan yang dihadapkan pada diri sendiri. Kebebasan itu tentu bukan tanpa rasa tanggung jawab. Semua pilihan hendaknya dilandasi sikap etis, sesuai dengan aturan.

Sedangkan untuk dapat hidup serta untuk menentukan rencana dan kemudian berusaha keras mencapai tujuannya sendiri, yaitu mewujudkan apa yang dicita-citakan, tiap manusia harus pula “mengenali diri sendiri“. Tanpa hal itu, manusia tak akan dapat memanfaatkan anugerah Tuhan berupa potensi dan kekuatan pada dirinya untuk mencapai masa depan yang serasi, selaras, dan damai, seperti yang diidamkan. Kebahagiaan hidup dalam kedamaian hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki dan mempertahankan sikap mental yang baik dan ketenteraman dalam batin.

Nasrudin dalam buku Etika Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa (2008) menyebutkan, orang yang membawahi raja pun harus diuji dengan cara yang berbau duniawi, yaitu perempuan dan harta, selain juga kemampuan dan keberanian. Hasil yang acap kali mengecewakan adalah ketika diuji perempuan. Ini membuktikan, bawahan raja belum lulus “uji materi“. Masih tergoda hal duniawi yang kelak mengganggu proses pemerintahan.

Meskipun demikian, Nasrudin menyebutkan, pejabat yang telah dahulu menduduki takhta sering kali menyalahgunakan jabatannya. Banyak yang diangkat atas dasar persaudaraan, bukan berdasar kompetensi yang dimiliki. Tentu saja hal ini kemudian menjadi mubazir, posisi itu tidak ditempati oleh orang yang semestinya. Kompetensi dan wilayah kerja yang tidak sesuai membuat roda pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sedangkan dalam budaya Jawa terdapat teks yang menyebutkan: wis tuwa arep ngapa, sudah tua hendak apa lagi. Baiknya memang menyelami keheningan dan kedalaman makna hidup supaya mendapatkan ketenangan jiwa. Hal itu adalah upaya untuk menarik diri dari ombyaking kadonyan, hiruk pikuk kehidupan yang cenderung menjadikan manusia terjebak dalam rutinitas kerja dan ambisi lahiriah yang tiada berujung. Ini merupakan peringatan bagi mereka yang telah berumur namun tak juga mau meninggalkan hal-hal yang tidak lagi penting.

Namun celakanya, tidak semua orang menyadari hal itu. Manusia yang tak mau berhenti dari sikap kesia-siaan itu adalah manusia yang nggugu benere dhewe, rumangsa bisa tapi malah ora bisa rumangsa. Sama halnya dengan sikap egois yang menganggap diri paling benar, tan noleh marang liyan, tidak mau melihat orang lain. Dengan sikap seperti ini, orang lain pun dapat membaca dan mengevaluasi, kian banyak pihak yang menjadi musuh “manusia muspra“ itu.

Budaya Jawa mengajarkan sikap hidup manusia hendaknya didasari atas perhitungan (petung). Kiranya telah banyak dijelaskan dalam primbon Jawa, kapan harus bertindak, kapan harus lebih waspada, atau bahkan menghentikan gerakan. Atas dasar itu, secara tidak langsung, manusia Jawa akan lebih bisa memberi makna atas segala tindakannya. Tentu agar tidak muspra dan ngambraambra.

Pada pewayangan, ada pula cerita lain. Sengkuni dikenal sebagai provokator dan ahli strategi yang berada di balik sejumlah aksi licik Kurawa terhadap Pandawa. Lakon Gandamana Luweng mengisahkan bagaimana ia menyiapkan jebakan luweng (lubang) bagi Patih Gandamana saat berperang melawan negara Pringgandani. Sengkuni melapor kepada Prabu Pandu Dewanata bahwa Gandamana -yang terkubur dalam luwengtertangkap musuh. Setelah Pringgondani berhasil diduduki, Sengkuni melaporkan bahwa Gandamana tewas. Maka ia pun diangkat menjadi patih, menggantikan Gandamana.

Kelicikan lain Sengkuni ada pada lakon Bale Sigala-gala. Pihak Pandawa diundang menghadiri pesta dalam bangunan yang bahannya rawan terbakar. Kurawa lalu membakar bangunan tersebut. Pandawa berhasil diselamatkan Bima. Dalam lakon Pandawa Dadu, dengan kelicikan Sengkuni, Pandawa kalah dan harus menyerahkan kerajaan Astina kepada Kurawa. Tanpa perhitungan matang, mustahil Sengkuni dapat menjalankan taktik menyingkirkan Pandawa.

Petung -mungkintak hanya digunakan untuk kebaikan semata. Semua diperhitungkan dalam rangka meminimalkan kegagalan. Dan kini, Sengkuni menjelma. Dengan dalih kepentingan bersama, tak segan-segan “Sengkuni” mengorbankan banyak orang dan menyebabkan penderitaan panjang. Namun, fitnah dan menghalalkan segala cara tak ubahnya meludahi langit. Ia akan kembali kepada empunya.

Pada hari ke-17 perang Bharatayuda, Bima menghajar Sengkuni. Mulutnya disobek menjadi dua bagian. Demikian pula tubuhnya diceraiberaikan dan dilempar ke berbagai penjuru. Beberapa dalang meyakini, lantaran hal itu maka "roh" Sengkuni hidup di mana-mana.

Selasa, 13 Maret 2012

Kecelakaan CINTA


Sesungguhnya kisah cinta yang paling dahsyat adalah yang terjadi pada kita sendiri, bagaimana pun jalannya.

Lama tidak menjumpaimu, seukuran dengan 604.800 detik yang kuhitung dengan mesin matematis. Tapi seperti sahabatku katakan, hati manusia tidak bisa diukur dengan matematika dan logika ekonomi. Sekian ratus ribu detik itu bermakna jauh lebih lama dari ukuran sebenarnya. Aku memimpikanmu, berkali-kali, aku merindukanmu setelah diam yang kita ciptakan ketika masing-masing dari kita sama-sama berniat meninggalkan. Berkali-kali kita berusaha untuk jujur pada diri, bahwa apa yang terjadi bukanlah suatu kebetulan tapi suatu keniscayaan yang nyata dan sungguhan. Kita sibuk dengan jalinan yang mengikat yang diyakini sebagai bentuk ikhtiar akan masa depan. Pada saat yang sama ternyata kita sedang mebodohi hati, melucuti nalar dan membuat kita terbiasa untuk beretorika tentang  perasaan.

Berkali-kali kita jatuh cinta, pada orang yang berbeda dan selalu mengharap ada perbedaan, perubahan, atau pun pencapaian yang kita harapkan. Betapa sering kita mengatakan bahwa perasaan jauh dari kemunafikan. Pada saat yang sama, pandangan kita runtuh, ternyata kita tidak pernah menggharapkan perbedaan. Justru kita bertarung sedemikian rupa, mereka-reka rencana supaya belahan jiwa yang baru sama dengan keinginan kita. Seringkali kita mencari pembanding, bukan membedakan, tapi justru menyamakan. Bukankah kita tahu bahwa orang itu tidak suka disamakan?
Jatuh cinta itu seperti kecelakaan. Kita tidak pernah tahu kapan dan dengan siapa itu akan terjadi. Cinta itu unik, meskipun sifatnya universal. Pengalaman cinta bisa bersifat spiritual untuk individu yang berbeda.

Banyak orang yang memilih menjadi pemain untuk membuktikan bahwa eksistensi cinta itu universal. "Kamu akan benar-benar membenci seseorang tapi di suatu waktu justru orang itu satu-satunya yang benar-benar kamu rindukan." Pilihan itu membebaskan bagi sebagian orang, tidak ada tendensi untuk memiliki hanya saling mengagumi. Berusaha memahami dan seperti 'dermawan' dengan keadaan tidak pernah terselimuti cemburu, memeras tenaga untuk berpikir tentang satu orang, dll. Bebas. Cinta dianggap sebagai pertukaran yang transaksional dalam hukum pasar yang menandakan bahwa ketika kesepakatan telah dicapai maka tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Cinta menjadi seperti layang-layang yang akan terbang ketika dibawa angin dan diam saja ketika tidak ada udara yang bergerak.

Tapi cinta itu bukan gambling. Kita tidak pernah tahu kepada siapa akan jatuh cinta. Hanya saja untuk menentukan jika suatu saat secara tiba-tiba kita jatuh cinta bukan dengan menaruhkan perasaan atau pun harga diri. Karena cinta itu bukan pertaruhan rasa dan harga diri. Struktural fungsional cinta. Aku cukup tertegun dengan istilah cinta turun dari mata lalu ke hati. Bisa saja itu terjadi, karena value seseorang  bisa dilihat dari fisik. Namun tidak sebatas itu. Cinta adalah lagu yang indah ketika suasana begitu hening, air yang menyejukkan kala kita dilanda dahaga, pun seperti ilham tak terduga ketika kreativitas hidup kita sedang buntu. Bahkan Mahatma Gandhi pernah mengatakan, senjata yang tak terkalahkan di dunia ini adalah cinta.

Sudjiwo Tejo, seorang dalang kawakan yang mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Jancukers mengunggah patahan kata yang tersambung menjadi peribahasa mutiara di jejaring sosial twitter. Maknanya denotasi sehingga tidak perlu susah mencerna arti dari kalimatnya: "Kita bisa saja menikah dengan orang yang kita inginkan, dengan orang yang kita pilih, tetapi kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai". Ya, tampaknya nonsense, tapi benar memang kita tidak pernah tahu siapa orang yang akan kita cintai, itu bagian dari kesepakatan alam. Aku seperti percaya bahwa dalam diri kita terdapat semacam sensor yang bereaksi ketika bertemu dengan orang yang sekiranya 'match' dengan reaksi alam tersebut. Meskipun tidak disadari, rasanya bertemu denganmu juga seperti menguatkan bahwa memang kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai.

Selanjutnya, mungkin saja sampai di pentas drama yang kita perankan sendiri. Hanya aku dan kamu dengan sutradara Tuhan,  tapi kita pun kadang mereka skenario 'apa' dan 'bagaimana' untuk episode terusannya. Cerita untuk besok, script mana yang harus digarap, siapa saja figurannya, tapi dengan tokoh utama yang tetap sama, kita. Lama sekali rasanya tidak menjumpaimu untuk bersitatap merencanakan cerita esok, dan kamu selalu saja tidak bisa kuukur dengan logika matematika maupun ekonomi. Kisah yang terurai dalam drama kita selalu menarik, unik dan hanya kita.


Senin, 19 Desember 2011

4 prajurit sungguhan yang pantas ditakuti Rambo





1. Audie Murphy

Ketika Audie Murphy mendaftarkan diri untuk bergabung ke Marinir di tahun 1942 pada umur 16, dia hanya berbobot 110 pounds/50 Kg dengan tinggi badan 5'5"/165cm. Mereka menertawakannya. Jadi dia mendaftarkan dirinya ke Angkatan Udara, dan juga ditertawakan. Kemudian dia mendaftarkan dirinya ke Angkatan Darat, dan mereka berpikir tidak ada ruginya menerima orang lebih untuk menjadi perisai bagi peluru-peluru musuh. Mereka pun menerimanya. Ketika ia pingsan di tengah latihan, mereka bermaksud memberinya tugas di dapur tetapi Audie bersikeras ingin bertempur, jadi mereka pun mengirimnya ke dalam badai pertempuran.


Dalam masa penjajahan Italia, pangkatnya dinaikkan menjadi korporal karena bakatnya dalam menembak. Pada waktu yang sama ia juga dijangkiti penyakit malaria, yang ia derita hampir selama perang berlangsung.

Pada tahun 1944, ia dikirim ke Prancis bagian utara. Disana ia berhadapan dengan sebuah pasukan senapan mesin Jerman yang berpura-pura menyerah, dan kemudian menembaki teman baiknya. Audie mengamuk dan menghabisi semua yang ada di sarang senapan mesin tersebut, mengunakan senjata-senjata musuh untuk menghabisi setiap musuh dalam jarak 100 yard/91 meter, termasuk dua sarang senapan mesin dan beberapa penembak jauh. Dari aksinya ini ia digelari Distinguished Service Cross, dan dijadikan komandan platon. Permintaan maaf pun datang dari orang-orang yang selalu memanggilnya "Shorty/Si Pendek"

Senin, 12 Desember 2011

KOPDAR TCV SEMARANG

Sedikit cerita dari ane mengenai Kopdar kemaren. Versi ini mungkin lebih singkat dari versi teman2 yg lain.Sabtu pagi jam 2, orcha udah nyampe di “sarang” ane …. Terlihat wajah pucat pasi, letih, lesu karna perjalanan jauh. Kediri Semarang ( kurang lebih 15-20cm kalo dari peta :D ) . Ane sambit orcha...eh, sambut orcha dngan jurus kungfu “ dewa menyambut kunyuk “ . Orcha pun dengan sigap menerima sambutan ane sambil nyengir memperlihatkan sederetan gigi na yg item kena asap knalpot truk. Setelah ngobrol2 sembari di pijitin Orcha, ane persilahkan orcha buat sekedar buang iler di kamar penuh tikus.

Subuh, jam 4 pagi . Ane dapt sms + pesen YM dari mpieerrtt ( tukang bikin sumur bor dari bogor ) , kalo dia udahh nyampe di SEMARANG ( legaaaa …. soalna ane kuatir banget sama ntu tukang sumur :D ) . Ane pun langsung sms Gunadi ( sopir truk sayur basi ) buat jemput mpirttt . Berita dari yg ane dapet, Gunadi lihat mpiertt lagi ngamen di lampu merah karna kehabisan bekal :D. Setelah memaksa mpitt buat mengakhiri aksi gila na di lampu merah, Gunadi langsung menyelinap di antara truk2 sampah menuju “ sarang “ ane buat nganter mpit ..

Satu jam perjalanan, mpittiitt sama Gunadi sampe juga di tempat persembunyiana ane …. Terus terang … ane kaget sampe dinding goa ane bergemuruh melihat sosok mpieettt … ternyata, tukang sumur bisa nyampe juga ke Semarang . Seneng, lega, takut campur aduk jadi satu melihat mpitt. Seneng, dia bisa ke SMG. Lega, dia selamat nggak kurang 1 apapun ( cuman katana, dia barusan kehilangan sekilo daki na di bis selama perjalanan ). Takut … , takut kalo mpittt bertindak di luar logika ( biasana mpiiitt paling demen kalo makan lumut yg banyak idup di dinding2 gua ane :D ).

Ber empat, kami saling berbagi cerita.... Tak lama kemudian, Gunadi pun unjuk gigi buat pamit pulang.Tak lama waktu berselang, kedatangan member TCV yg lain ( melon_unyu + bunda_nanda ) semakin menambah rame suasana di gua ane. Tanpa di daulat, mpittt & orcha naik ke meja buat memperkenalkan diri .

Sekitar pukuk 08.00 pagi, mpit, orcha, melon, bunda ninggalin ane yg lagi persiapan buat sesaji selama kopdar untuk pergi ke tempat poertemuan di MASJID BAITURRAHMAN Kawasan Simpang 5. Sepuluh emnit kepergian rombongan majelis taklim... eh salah... rombongan penyamun... eehh.. . Pie tho.... rombongan TCV , ane dapet tlp dari fulan ( member kopdar yg lain, tapi g mo disebutin nama nya selain si anu ) untuk jemput ane.

Cuman butuh waktu 40 menit lepas dapat tlp dari fulan, akhirna dia datang bertiga sama fla + si anu :D. Kami ber 4 pun langsng menuju ke Kawasan Simpang 5. Disana sidah mennunggu mpitttt, orcha, melon, bunda tmbah 2 sejoli yg lagi kasraman , Gunadi + Pinnot :D . Kami pun langsung menuju ke TKP pertama di daerah Boja ( Kendal ) Pemandian Air panas.

Untung tak dapat di raih, Rugi tak dapat di hindari ( bener g sih peribahsa nya :D ) . Ada sinden kecil pas rombongan sampe di daerah Krapyak . Ulah dari okmum yg cuman mementngkan perutna sendiri, perjalanan kami terpaksa harus berhenti sejenak. Berkat bantuan dari Guadi dan pasanganan Pinnot , insiden itu bisa teratasi …Ane pun lihat mpittt sorak2 di atas mobil karna dia seneng bisa ngelanjutin perjalaann kali ini.

Kalo nggak salah liat jam, pukul 12 siang rombongan TCV udah nyampe di Limut ( pemandian air panas ) . Hawa dingin langsung merayap melalui pori2 kecil kulit kami ( lebay banget :D ) . Sebenarna di lokasi ada 2 tempat wisata.. Kolam renang air panas yg letakna tepat persis di depan area parkir, ato air terjun + sumber air panas yg letakna jauh, dengn sedikit tenaga harus kami tempuh dengan jalan kaki sambil gendong2an .

Melalui adu ilmu + adu sihir, di putuskan rombongan menuju ke air terjun . Tiket masuk per biji cuman di tebus pake senyum + kerling mata dari mpieeerttt :D . Sepuluh kali kerling mata dari mpittt di bantu senyum yg bikin muntah dari orcha , rombongan berhasl masuk ke lokasi. Wuuuihhh ….. lokasi air terjun penuh bebatuab yg licin, membuat rombongan ekstra hati2 . Setengah jam kami dari loket masuk, kami pun tiba di sumber air panas berikut kolam2 kecil.

Bak anak kecil yg baru dapat hadiah ultah, kami lihat mpitttrt, orcha dan fla tanpa malu2 langsung nyebur di kolam …. Mereka pikir kapan lagi bisa nyemplung di kolam belereang kek gini :D . Disini kami juga tak lupa ber poto2 ria ...( kecuali ane sama si fulan ) . ane bukan dari kalangan narsis me :P. Hujan pun mengguyur area kolam. Niat kami untuk melanjutkan ke Air terjun, tujuan utama kali ini. Terpaksa di tunda akibat hujan .

Kami pun langsung terbang menuju TKP ke 2. Lawang sewu. Sebelum ke Lwang Sewu, rombongan mampir dulu di kostan melon buat istirahat, mandi + Sholat. Selepas maghrib, rombongan langsung menuju ke lawang sewu. Ternyata di sana sudah menunggu teman kita dante a.k.a doggies. Tiket masuk di lwang sewu cuman Rp10.000 / orang . Kita bisa muter2 sampe mual + ketemu sama temen2 dari dunia lain.

Sayang teramat sayang … ane cuman bisa nganter masuk aja. Ane terpaksa pulang terlebih dulu di karenakan ada tugas dari Bpk Walikota yg tidak bisa di tunda. Ane pun pulang dengan bercucuran air mata, menyesal. Tidak bisa mengantar rombongan muter2 di kota Semarang.

Cerita kopdar versi ane cuman singkat, mungkin ada temen2 yg lain bisa menambahkan sesuai versi masing2 + cerita pengalaman di lawang sewu. Untuk poto2na …. buat penggati biaya kopdar, kami jual potona 1lembar = Rp25ribu :D


Peserta Kopdar :
  1. #979 : Gunadi
  2. #2066 : Pinnot
  3. #1883 : bunda_nanda
  4. #1959 : melon_unyu
  5. #574 : fla_rose
  6. #27 : eyank_orcha
  7. #87 : mpit_tea
  8. #?? : fulan
  9. #??? : anu
  10. #12 : mbahresi
  11. #54 : doggies

Senin, 14 November 2011

Rahasia Umur Manusia

Dulu ketika Tuhan akan menciptakan kerbau, monyet, anjing dan manusia, Tuhan melakukan kesepakatan terlebih dahulu dengan mereka berempat untuk menentukan pekerjaan dalam kehidupan (job description) dan usia hidup mereka masing-masing...

Pada hari pertama, Tuhan menciptakan kerbau...

Tuhan : "Hari ini Kuciptakan kau sebagai kerbau, engkau harus pergi ke ladang sawah, bekerja membantu petani dibawah terik matahari sepanjang hari, jadi Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun..."

Kerbau merasa keberatan dengan kesepakatan tersebut,

Kerbau : "Kehidupanku akan sangat berat apabila aku harus bekerja seperti itu selama 50 tahun... aku mohon kurangilah usiaku menjadi 20 tahun saja ya Tuhan...dan yang 30 tahunnya kukembalikan padaMu...

Tuhan mengabulkan permohonan kerbau dan menjadikan usianya menjadi 20 tahun saja.

Pada hari kedua, Tuhan menciptakan monyet...

Tuhan : "Hai monyet...kau sangat lucu, lincah dan cerdik...kau dapat menghibur dan membuat manusia tertawa dengan kelebihan yang kau miliki, Aku akan memberikanmu umur selama 20 tahun!"

Monyet pun menjawab,

Monyet : "Apa?? Menghibur dan membuat manusia tertawa selama 20 tahun?? Terlalu melelahkan dan memalukan apabila selama itu! Kurangilah usiaku menjadi 10 tahun saja ya Tuhan...

Tuhan mengabulkan permohonan monyet dan menjadikan usianya menjadi 10 tahun saja.

Pada hari ketiga, Tuhan menciptakan anjing...

Tuhan : "Anjing...kau Kuciptakan menjadi hewan yang setia kepada manusia, kau akan menjaga pintu rumah majikanmu, setiap orang yang mendekat harus kau beritahu kepada majikanmu dengan cara menggonggong orang tersebut, untuk itu Aku berikan usiamu selama 20 tahun..."

Anjing pun langsung menolaknya,

Anjing : "Hah?? Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun?? Pastinya sangat membosankan! Saya tidak mau selama itu Tuhan...Tolong kurangi usia saya menjadi 10 tahun saja..."

Tuhan pun mengabulkan permohonan anjing ini dan menjadikan usianya menjadi 10 tahun saja...

Pada hari keempat, Tuhan menciptakan manusia...

Tuhan : "Wahai manusia...tugasmu adalah makan, tidur dan bersenang-senang! Inilah kehidupanmu yang lebih menyenangkan dibandingkan kerbau, monyet dan anjing dan kau akan sangat menikmatinya...Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!"

Manusia tiba-tiba keberatan,

Manusia : "Wahh...Menikmati kehidupan yang menyenangkan seperti itu hanya selama 25 tahun??Haduh kurang, sayang banget...25 tahun tidak cukup...Tuhan, aku ingin mengajukan kesepakatan ...

Karena kerbau mengembalikan 30 tahun usianya...
Anjing mengembalikan 10 tahun usianya...
Monyet mengembalikan 10 tahun usianya...

Kumohon berikanlah semuanya itu padaku...
semua akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun!
Bagaimana Tuhan?"
Tuhan menyetujui permohonan manusia,

Tapi perpanjangan umur tersebut memberikan akibat...

Pada 25 tahun pertama memang kehidupan manusia masih menyenangkan, makan, tidur dan bersenang-senang...
30 tahun berikutnya manusia menjalankan kehidupan layaknya seekor kerbau, manusia harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarganya...
10 tahun kemudian manusia menghibur dan membuat cucunya tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur...
10 tahun berikutnya lagi manusia tinggal dirumah, duduk didepan pintu dan menggonggong (Menyapa setiap orang yang lewat dengan ceramah ataupun hanya sekedar batuk-batuk karena sudah terlalu tua)...


Manusia memang makhluk yang memiliki akal budi dibandingkan makhluk hidup lain, 
Tetapi manusia adalah makhluk yang "Tidak Pernah Puas".
Walau begitu selalu bersyukurlah dengan usia yang telah Tuhan berikan kepada kita...
Gunakan dan manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya,
Janganlah berbuat jahat,
Tambahkan kebajikan, 
Sucikan hati dan pikiran 
Sejak dini untuk bekal di masa yang akan datang... 


Senin, 08 Agustus 2011

Jawaban Yang Selalu di Tolak Saat Interview

G = orang HRD
P = Pelamar


Ditanya sudah ada rumah?

G :kamu sudah punya rumahatau belum?
P : belum..
G : Wah kamu ndak bisa diterima.
P : lho kok begitu.?
G : nanti kamu pasti ngajuin utang ke perusahaan...

Ditanya kendaraan?
G : Tadi ke sini naek apa?
P : saya Naik mobil...
G : Kamu ndak diterima...
P : sebabnya ?
G : Sekarang BBM naik terus, nanti kamu minta naek gaji terus

P : Wo, tadi saya cuman ngikut temen, kok..
G : makin ndak diterima.
P : Lho, lha kok?
G : Nanti cuman bisanya ngikut mobil kantor.... Ngerepotin!

Ditanya anak?
G : Anakmu banyak apa sedikit?
P : banyak, Pak...
G : Kamu ndak diterima..
P : Sebabnya..?
G : Kamu kerja ndak konsen, cuman mikirin bikin anak meluluu.....
P : Lha wong cuman anak adopsi, kok.
G : Makin ndak diterima.
P : Lho, lha kok ?
G : Bikin anak aja males, apalagi kerja..

Ditanya kerjaan?
G : Kamu dah tahu kerjaanmu belum?
P :Belum
G :Kamu ndak diterima
P : Sebabnya?
G : Mau kerja kok ndak tahu kerjaannya...
P : Oo...kalo kerjaan itu sudah tahu koq...
G : Makin ndak diterima...
P : Lho, lha kok .. ?
G : Kamu kan cuman mau sok tahu..kan???

Ditanya sering sakit?

G : Kamu sering sakit?
P : Tidak
G : kamu ndak diterima
P : Sebabnya?
G : Pasti bakal sering bolos, lha wong jarang sakit...
P : Ya..sebenernya ya sering.
G : Makin ndak diterima....
P : Lho, lha kok ... ?
G : Di sini ndak mempekerjakan karyawan penyakitan....

Ditanya teknologi?

G : Kamu bisa pake internet?
P : Ndak bisa
G : Kamu ndak diterima
P : Sebabnya?
G : Di sini ndak nerima orang Gaptek.
P : Wah, sebenernya sih bisa.
G : Makin ndak diterima
P : Lho, lha kok ..?
G : Pasti bakalan ndak kerja, kebanyakan pake internet, kan? Ngabis2in bandwith!



Ditanya kondisi jiwa?


G : Kamu waras apa tidak?
P : Lha, saya ya waras dong,Pak....
G : Tidak diterima...
P : Kenapa?
G : Nanti kamu pasti ndak krasan di sini....
P : Itu dulu,Pak.. sekarang sih sudah rada gila...
G : Makin ndak diterima.
P : Wah..gimana sih?
G : Nanti aku punya saingan

Jumat, 29 Juli 2011

Renungkanlah !!!!

•Disaat kamu ingin melepaskan seseorang.. ingatlah pada saat kamu ingin mendapatkannya.
•Disaat kamu mulai tidak mencintainya.. ingatlah saat pertama kamu jatuh cinta padanya.
•Disaat kamu mulai bosan dengannya.. ingatlah selalu saat terindah bersamanya.
•Disaat kamu ingin menduakannya.. bayangkan jika dia selalu setia.
•Saat kamu ingin membohonginya.. ingatlah disaat dia jujur padamu.
•Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu, jangan sampai disaat dia sudah tidak disisimu, kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu.
•Yang indah hanya sementara.
•Yang abadi adalah kenangan.
•Yang ikhlas hanya dari hati.
•Yang tulus hanya dari sanubari.
•Tidak mudah mencari yang hilang.
•Tidak mudah mengejar impian.
•Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada, karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga.
•Ingatlah pada pepatah,
"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini".
•Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif.
•Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas.
•Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa, namun... Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi, sehelai benang pun tak bisa dimiliki.
Apalagi yang mau diperebutkan
Apalagi yang mau disombongkan
•Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani.
•Jangan terlalu perhitungan.
•Jangan hanya mau menang sendiri.
•Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita.
•Belajarlah tiada hari tanpa kasih.
•Selalu berlapang dada dan mengalah.
•Hidup ceria, bebas leluasa.
•Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan.
•Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan.
•Tak ada dendam yang tak bisa terhapus.

Kamis, 11 Maret 2010

Publik Figure & Wakil Rakyat

Kita hidup dengan arloji, dan karena itu kita acap tak mampu menyimpan memori.
Arloji, adalah gerak ke depan, tik-tok waktu yang tak pernah kembali. Dalam “hidup arloji”, yang ditinggalkan memang tak dilupakan, tapi diogahi. Masa lalu masih ada, namun tak penting. Celakanya, masa lalu yang tak penting itu hidup dalam “ingatan kolektif yang abai”.
Hari-hari ini, ideologi arloji itu, saya temukan lagi dalam sikap Krisdayanti.
Diva Indonesia itu tengah gundah karena, “Aurel tak mau menatap saya ketika berbicara. Dia sibuk memainkan teleponnya.” Sebabnya, Aurel belum memberi izin ibunya untuk menilah lagi. Tabloid wanita ramai memberitakan hal itu, juga tentu, infotainmen, dan situs-situs berita. Dan, seperti bisa diduga, yang akan menikahi KD adalah Rahul Lemos, lelaki yang karenanyalah Anang menjatuhkan talak.
KD, dengan santai, bercerita tentang hasratnya untuk cepat menikah, bukan karena dia lupa pada ucapannya bahwa, “Tak ada orang ketiga dalam perceraian kami,” melainkan dia percaya, penggemar dan pemirsa telah alpa.
KD tak sepenuhnya benar. Khalayak tidak alpa, apalagi lupa, cuma menganggap perselingkuhannya bukanlah sesuatu yang pantas dikenang, dimemorikan. Ironi ini, dalam bahasa Dr Risa Permanadeli, adalah ciri masyarakat Indonesia, yang, “Cenderung mengubur memori kolektifnya.”
Dan kita harus mengakui lemahnya memori kolektif itu. Tora Sudiro kemudian menikah dengan Mieke Amalia, yang dia bantah menjadi sebab kehancuran rumah tangganya. Juga Dona Agnesia, yang secara mendadak berpisah dari Okan, lalu menikah dengan Darius. Dalam sengketa asmara itu, semua aktris membantah kehadiran orang ketiga, tapi waktu kemudian membuktikannya.
Apa yang dibantah, bahkan dengan sumpah, menjadi tak penting lagi. Dalam tik-tok arloji, kelampauan adalah keusangan. Meski itu menyangkut janji, atau hati. Yang menyergap, yang harus dikalahkan, adalah masa depan.
Ayu Azhari misalnya, bertarung untuk masa depan itu. Dia tahu, biografi hidupnya akan dijabarkan. Menikah beberapa kali, acap tampil seksi, sampai berakting bugil dengan Frank Zagarino dalam Without Mercy, dan terakhir, tak memakai bra ketika membaca puisi di hadapan menteri. Kalau pun itu aib, bagi Ayu, telah menjadi masa lalu, dan untuk khalayak, cuma menjadi gosip, dibicarakan tanpa melahirkan tindakan. Ayu berharap, ingatan arloji itu akan dapat mengereknya ke panggung politik karena dia punya kuasa untuk memerintah lupa, “Saya siapkan 10 miliar untuk kampanye.”
Pada akhirnya, di masyarakat kita, kuburan memori kolektif itu adalah uang. Dan ini tak salah. Agustinus, dalam Confession menulis bahwa ingatan, juga kesadaran seseorang, terentang dengan ekspektasinya tentang masa depan. Ingatan, dengan demikian, selalu berelasi dengan kepentingan dan harapan di masa depan. Lupa adalah tindak yang dipilih jika bisa melahirkan sebuah harapan. Dan berkaitan dengan uang, harapan itu tentu berwatak personal.
Dan karena itulah, kita sulit berpikir sebagai bangsa.
Ingatan dibungkam secara pribadi, orang perorang, yang melahirkan kelupaan massal. Uang dan iklan –penghipnotis massa– ditembakkan untuk melahirkan impunitas, pengampunan, pemaafan, permakluman. Dengan itulah, Ayu Azhari berharap bisa melenggang. Atau Ruhut, dengan ringan berteriak bangsat berkali-kali, meski tahu disorot televisi. Mereka percaya, waktu, ingatan arloji itu, akan dapat memperbaharui diri mereka.
Maka, Vena Melinda pun tertawa, ketika tak hapal lagu “Indonesia Raya”. Juga Inggrit Kansil, yang tak dapat menjelaskan apa hak angket, sampai Rachel Maryam yang lupa sila kedua Pancasila. Tak ada wajah gugup, keringat, atau panik, ketika John Pantau menggoda mereka. Padahal, di saat yang sama, ditunjukkan betapa rakyat jelata, yang mereka wakili, tanpa berpikir bisa menjawab pertanyaan itu.
Dan mereka, aktris yang sebelum kampanye digosipkan tak akan memiliki kemampuan di DPR, tetap terpilih juga. Kita, sebagai warga, tentu masih ingat tentang “cacat” mereka. Tapi ingatan itu berjalan ke belakang, tak berfungsi ke depan.
Sia-sia.
Barangkali, inilah yang dikatakan Spinoza sabagai ingatan yang tanpa sad passion, syahwat kesedihan. Mengingat bagi kita, tak melahirkan sakit, sebaliknya perasaan riang, gembira. Karena kita percaya, dalam tiap cacat masa lalu seseorang yang kita kenang, ada rejeki, uang, harapan, di depan. Kita mengingat bukan dengan afeksi, emosi, dan sentimen-sentimen personal untuk masa depan yang lebih baik, melainkan demi kepentingan personal semata.
Ingatan arloji, kataku. Mari menari! mari beria! mari berlupa! tulis Chairil dalam puisi “Cerita buat Dian Tamaela”. Karena dalam lupa, dalam ingatan yang tak ingin kita kuasakan, kita bisa bahagia, meski bukan untuk bangsa.

Senin, 14 September 2009

Lihatlah ( Puasa ) Bocah Kecil Itu

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda denganberjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang  melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap  dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya. Cuma, ya itu tadi, bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah..  ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir, kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus, "apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu."

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. "Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya? Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup di bawah garis kemiskinanpada sebelas bulan di luar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal?

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian?" Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

"Ketahuilah, Tuan, kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri'.

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri'? Tuan, sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan, kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan Ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang  kecil seperti kami?  Tuan, sadarkah Tuan akan ketidakabadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan, sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan, jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan,jangan  merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan untuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak."

Wuahh... entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.  Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu  pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran di depan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat, yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan  mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada di atas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang  luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati  mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang, entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Sabtu, 24 November 2007

Duta Anti Narkoba

Keterlaluan negeri kita ini. Orang yang jelas memakai narkoba, eh jadi duta dan ikon antinarkoba yang duduk semeja dengan Kapolri dan Ketua BNN.  Ingat 2 Februari 2006 ?.  Ya, saat itu Roy Marten mendekam di penjara karena sabu - sabu. Aktingnya, dia melakukan tobat, minta maaf kepada semuanya seakan secara jantan menjalani semuanya sebagai konsekuensi pilihan hidup.

Publik pun iba, mersa kasihan, berempati untuk usaha Roy meninggalkan narkoba dan 1 Oktober 2006 dia bebas. Publik dengan baik dan tangan terbuka menerima kembali. Roy kembali main film bahkan jadi jubir Persatuan Napi se-Indonesia. Kegiatan selanjutnya dia menghadiri peringatan Hari Narkoba Internasional. Bicara tentang bahaya narkoba di depan 2000 prajurit TNI AD di Jakarta.

10 November 2007, dia memberi testimoni antinarkoba yang dihadiri Kapolri di Surabaya. Artinya, masyarakat sudah menerima Roy ke jalan yang benar. Menjadikannya sebagai panutan agar diri dan keluarganya tak terjerat narkoba. Pendek kata, Roy Marten adalah Ikon AntiNarkoba. Tapi 13 November 2007 dia di grebek polisi ketika sedanhg pesta shabu - shabu di hotel Novotel Surabaya.

Apalagi yang kini bisa di jadikan panutan dari seorang Roy Marten. Pembelaan keluarganya bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan hingga masih boleh mengkonsumsi shabu - shabu dalam jumlah terbatas atas pengawasan dokter. Sebagai seorang awam, saya nggak mau tahu alasan membela itu. Yang jelas, Roy tertangkap memakai shabu - shabu. Titik.

Sebagai ikon antinarkoba, harusnya orang yang benar - benar bersih dari narkoba ( Ade Ray, Chris Jon ). Apakah tidak ada lagi orang yang benar - benar besrih dari narkoba sehingga orang seperti Roy Marten masih di pakai ikon anti narkoba. Lebih - lebih kabarnya shabu - shabu di peroleh dari bandar yang masih menghuni LP Cipinang.

Kalau sudah demikian, mau dibawa kemana generasi muda kita???. Orang tua cuma bisa ngomong, tanpa memberi contoh yang baik. Hanya bisa melarang tapi mereka sendiri memakai. Panggung sandiwara kembali dimainkan Roy. Dampak terhadap generasi muda ???

Ayo generasi muda, penerus bangsa, tak perlu banyak bicara dan mencari panutan lagi. Kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga untuk " SAY NO TO DRUGS ".  Jangan tunggu besok. Sekarang saatnya. Sekarang juga.

Minggu, 04 November 2007

Pasir dan Batu

Dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan.Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas.Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.
Jejak–jejak kaki mereka meliuk –liuk di belakang membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk. Tiba–tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir beterbangan di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak ,menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.
Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu.” Ah…, tamatlah riwayat kita,” kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.”
Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkn perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir ,mereka melihat ada oase di kejauhan. ” Kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka. ”Lihat,ada air di sana.”
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuas puasnya dan mengisi kantong air.
Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”
Pengembara kedua heran. ”Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir ?”
Yang di tanya tersenyum. ”Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di atas pasir.
Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. ”Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia .Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.”
Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah di dapat, istirahatpun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanannya. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.
Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir. Berseling-seling mewarnai panjangnya hidup ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun, adakah kita besikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbang nya angin ketulusan?
Teman, cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki. Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya. Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya. Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.

Senin, 22 Oktober 2007

Jalan - jalan Bersama Bondan

Gesture Bondan, kaget-nikmat, senyum dan gelengan kepala bukanlah ekspresi dari citarasa makanan melainkan bujukan agar pemirsa tertarik untuk mencari atau menikmati makanan yang ditampilkan.
"Maknyus," kata Bondan. "Nyamleng," puji Arletta. "Wuenakee..." teriak Dorce. Semua kata-kata itu untuk mengungkapkan citarasa makanan yang tengah mereka santap. Idiom atau magic word ini tentu sudah sangat dihapal pemisra televisi. Bahkan, saking hapalnya, begitu Bondan menyesap kuah makanan, pemirsa pasti duluan mengatakan, "Maknyuss", dan tertawa bersama.

Bondan dan "Maknyus-nya" memang menjadi ikon baru di tayangan kuliner televisi. "Maknyus" itu juga yang menjadi pembeda utama acara Bondan dengan tayangan kuliner lainnya, yang bahkan lebih dulu ada sebelum "Wisata Kuliner" TransTV. Tak heran jika Dorce pun sampai "mencemburui" Bondan. Berkali-kali dalam "Dorce Show: Jalan-Jalan" dia mengungkapkan kecemburuan itu. "Pemirsa, sekarang ya, banyak sekali acara makan-makan, pada meniru saya. Tapi, mana ada yang makannya seperti saya. Semua pake gaya, nggak berani gila seperti saya, ya pemirsa. Kalau saya tidak dibuat-buat, pemirsa. Kalau makan ya makan, kalau enak ya enak aja..." ucapnya sambil mengadukkan kuah rendang ke nasinya, dengan mulut berkecipak berminyak.

Dorce benar, setidaknya dalam dua . Pertama, acara kuliner memang luar biasa banyaknya. Jika tidak mandiri, acara ini menjadi imbuhan di acara lain. TransTV misalnya, punya tayangan "Wisata Kuliner" Bondan, "Gula-Gula" Bara Patiradjawane, dan "Jalan-jalan" Dorce. TVRI mengeluarkan "Dunia Wanita", TPI dengan "Santapan Nusantara", dan Indosiar memasang "Aroma", "Iron Chef" serta "Bango Selera Nusantara". Stasiun televisi lain pun tak ketinggalan, meski tidak menjadikan kuliner sebagai acara khusus. Namun, dari semua stasiun, hanya Trans TV yang sangat "menggilai" acara makan-makan ini. Tak cukup dengan tiga tayangan di atas, makan-makan pun selalu mengambil jatah di "Good Morning", "Koper dan Ransel", "Sisi Lain", "Jelang Siang", "Jelajah", bahkan nyusup di "Reportase Sore". Di Trans TV, acara kuliner-lah yang dapat menandingi infotainmen, dalam keragaman dan perulangannya.

Kedua, memang hanya Dorce yang berani "gila" ketika makan. Dia jarang memakai sendok, makan sambil bicara, bibirnya berkecipak, dan kadang, duduk dengan satu kaki yang diangkat ke kursi. Dorce juga tak rikuh menunjukkan selera primordialnya, menyantap petai, jengkol, dan sambal sampai berkeringat. Hal yang sampai saat ini belum pernah ditunjukkan pembawa acara kuliner yang lain.


Pemanggungan

Banyaknya acara kuliner di televisi menunjukkan telah terjadi "pemanggungan" makanan. Karena itu, makanan yang tampil pun --pengecualian di acara "Dorce Jalan-Jalan"-- dimake-up maksimal agar sesuai dengan pakem panggung. Makanan ditata sedemikian rupa di meja dengan ukuran-ukuran estetika sajian, mulai posisi penempatan, kontras warna piring dan taplak meja, sampai latar fisik tempat meja itu berada. Pencahayaan juga diefektifkan, dan tak lupa, point of view, yang akan menjadi sudut pandang penonton juga. Presentasi dan atau narator juga diperhitungkan secara saksama untuk menciptakan sapuan suasana yang sungguh menggugah selera. Pemilihan menu pun mempertimbangkan hukum pementasan, mulai perkenalan, konflik (menu yang unik, ragam, kaya rasa), dan peleraian (minuman yang menghanyutkan semua sensasi rasa makanan tadi).

Aspek pemanggungan itu, entah apa sebabnya, justru tidak maksimal di dalam tayangan "Dorce Jalan-jalan" dan "Bango Selera Nusantara" yang dulu juga digawangi Bondan Winarno. Makanan hadir apa adanya, kadang bersama "rombongannya" di etalase warung atau restoran. Dorce juga tidak melakukan "penilain" profesional, hanya celetukan-celetukan kecil sebagai ungkapan pribadi. Selebihnya, rasa nikmat itu dapat dikira pemirsa melalui kerakusan, kecipak mulut dan kealfaan Dorce pada kamera. Dorce makan, dan tidak sedang membujuk pemirsa untuk dapat menikmati makanan yang sama. "Kealfaannya" pada kamera ketika makan itulah salah satu yang membuat acara ini menjadi sangat berbeda. Keberbedaan itu justru menunjukkan "hakikat" yang sebenarnya, makan sebagai makan dan makanan sebagai makanan. Dorce makan sebagai aktivitas alamiah, laku umum ketika orang menghadapi makanan. Antusiasmenya pada masakan padang, caranya mencampur lauk, sayur dan nasi, bahkan memasukkan ke mulut dan mengunyah, tipikalitas orang kebanyakan. Gaya Dorce adalah "pertunjukan" yang setiap hari dapat kita temukan pada orang yang makan di warung Padang pinggir jalan, staf rendahan, para abang becak dan kuli bangunan. Makanan yang disantap Dorce pun nyaris tak berbeda. Ia selalu kembali ke selera yang sama. Dorce merepresentasikan makan dan makanan sebagai sesuatu yang hanya berurusan dengan mulut dan perut. Makan sebagai kewajiban agar raga dapat terus hidup.

Makan Gaya

"Wisata Kuliner" dan pembawa acara yang setipikalitas dengan Bondan, sudah melangkah lebih jauh dari apa yang dilakukan Dorce. Bondan, sebagaimana pengakuannya di Nova, bukan berposisi sebagai pemandu selera, tapi promotor makanan. Jadi, semua tindakan Bondan adalah representasi dari usaha untuk mempromosikan. Gesture Bondan, kaget-nikmat, senyum dan gelengan kepala bukan ekspresi dari citarasa makanan melainkan bujukan agar pemirsa tertarik untuk mencari atau menikmati makanan yang ditampilkan. Citarasa makanan kemudian hadir hanya dalam bentuk ucapan verbal "maknyus", "nendang banget" dan atau "pecah di lidah". Bondan sebanding dengan Titi Kamal yang mempromosikan produk mie instan, "Pokoknya.... megang banged!" Semua enak, indah, dan sempurna.

Model representasi di atas juga otomatis membagi posisi makan sebagai kebutuhan primer, dan makan yang sudah menjadi kebutuhan tertier, lux. Aktivitas makan sebagai kebutuhan tertier tidak berurusan dengan kenyang perut. Itulah sebabnya, nyaris tak pernah ada tayangan yang menunjukkan Bondan menghabiskan makanannya semaknyus apa pun itu. Beda dengan Dorce yang menandaskan nasinya, bahkan sampai mulutnya berbunyi "Eeegg...". Sebagai kebutuhan lux, makan adalah wisata, penjelajahan citarasa dan bukan kepatuhan pada selera. Sebagai wisata, makan adalah kebutuhan non-lahiriah, rasa kenyang didapatkan di dalam "nilai gaib" yang terkandung di makanan itu. "Ini lho, sarapan Hamengkubuwono VIII," kata Arletta, ketika wisata kuliner ke Yogya.

Membayangkan telah mengonsumsi "nilai gaib" itulah yang kemudian membuat makanan berubah menjadi arena pementasan diri. Orang makan untuk menunjukkan personalitas diri, gaya hidup, bahkan perbedaan kelas. Makanan menjadi cermin untuk berkaca dan memaknai diri. Ketika ke warung Mbah Jingkrak di Semarang, misalnya, tanpa disadari "Wisata Kuliner" telah meletakkan "nilai lain" ke Warung itu. "Promosi" yang dilakukan Bondan sekaligus meninggalkan nilai tanda di Warung itu. Dan kemudian, mereka yang makan ke warung itu bukan sekadar mencari rasa pedas melainkan terutama membeli "nilai tanda" tersebut. Nilai tanda itu bahkan bisa melebar ke spektrum yang tak terbayangkan. Makan di sana menjadi identitas baru sebagai warga yang melek kuliner, tahu selera, dan ngerti gaya hidup. Bahkan mungkin, muncul perasaan tak lengkap sebagai orang Semarang jika belum merasakan ikon-ikon kuliner di kota ini.

Pada akhirnya, menonton acara kuliner di teve, kita diberikan pilihan untuk menjadi manusia yang menghargai makanan atau manusia yang dihargai karena makanannya. Semua terserah kita.

Senin, 08 Oktober 2007

Lihat ke Belakang

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Ke mana ia harus mencari bagian dari tubuhnya itu.
Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah dia tinggalkan. Perlahan, dia tapaki jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda dia amati, dan dia cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.
Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei, kenapa kini semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya jadi lebih indah.
Rerumputan dan ilalang menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda, menimbulkan suara yang ritmik, kesiuran sahdu ditimpuki angin. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.
Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.
Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang ditabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam dan doa pada sang Roda.
Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.
Begitulah hidup. Kita seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan ada saat-saat indah yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.
Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu ditekuni.
Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita. Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!