Tampilkan postingan dengan label selebritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selebritis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Ideologi Sikap dan Otak





Menyaksikan berita tentang tuntutan revolusi di negara Mesir tiba-tiba ingatan terbawa kembali ke tahun 1998 ketika Indonesia mengalami pergolakan politik lengsernya Soeharto, apa yang kemudian disebut Gerakan Reformasi 1998. Dan ingatan pun terbawa ke memori lagu-lagu Ahmad Band, kenapa Ahmad Band? Karena saya Baladewa, dan karena lagu Ahmad Band saat itu menggambarkan situasi dengan sangat jelas dan gamblang.

Terutama lagu Distorsi, "yang muda mabuk, yang tua korup, jayalah negeri ini, jayalah negeri ini", yang menggambarkan korupsi, kolusi dan nepotisme yang dilakukan para pejabat dan mabuk-mabukkan yang mewarnai generasi muda.

Lagu Impotensi, menggambarkan situasi di masa pemerintahan Orde Baru,"apa arti damai jika otakku terkubur, apa arti damai jika semua membisu, kau jilati situasi, kau pun menari di atas kepatuhan, di atas kesunyian jiwa yang telah mati, tercipta generasi tanpa peduli".

Rabu, 08 Februari 2012

Trend Seks Para Selebriti





Bagi sebagian selebriti, bercinta adalah suatu permainan yang perlu eksplorasi. Kalau mau tahu bagaimana keunikan mereka saat bercinta, para selebriti di bawah ini siap berbagi cerita.

A (Anywhere)

Model pakaian dalam, Heidi Klum dan suaminya Seal, tidak masalah untuk melakukan seks dimana saja mereka mau. "Aku tinggal memberi kode padanya, sayang jam 2 kita akan 'main' di loteng dan jam 6 di lemari," ujar Heidi.

B (Burlesque)

Ini adalah seks trend yang diciptakan bintang senior Dita Von Teese. Si cantik berwajah klasik ini sering mengawali seksnya dengan menggoda pasangan sambil mengumbar canda. Trend ini sukses diikuti para selebriti lain, seperti Lady GaGa, Brooke Hogan, Lindsay Lohan, Christina Aguilera dan Penelope Cruz.

Senin, 18 Juli 2011

Iwan Fals ( Orang Indonesia )

1. Sebelumnya nama Iwan Fals memiliki ejaan yang berubah-ubah. Dalam beberapa album lamanya pernah memakai ejaan IWAN FALES, IWAN PALES, IWAN FALLS, IWAN FALSE. Hingga akhirnya disederhanakan oleh pihak recording menjadi Iwan Fals saja. Pada album lamanya juga pernah dicantumkan nama asli (Virgiawan Listanto) sebagai pencipta lagu.

2. Sebelum album ‘Sarjana Muda’ (1981), Iwan Fals sebenarnya sudah pernah rilis beberapa album. Tetapi sekarang tidak ada satupun yang bisa ditemukan di record store. Semuanya jadi collector item yang diburu para penggemar fanatiknya. Karya-karya yang musik dan liriknya sangat sederhana tersebar dibeberapa album yaitu ‘Yang Muda Yang Bercanda’, ‘Canda Dalam Nada’, ‘Canda Dalam Ronda’, ‘Perjalanan’ dan ‘Tiga Bulan’. Bisa dihitung hanya beberapa yang masih memiliki dan merawat album-album ini.

3. Lagu ‘Kemesraan’ adalah karya dari Franky dan Jhony Sahilatua yang pada awalnya dinyanyikan oleh duet legendaris Franky & Jane. Namun pada masa itu lagu ini tidak terlalu populer. Kemudian Iwan Fals ditawari untuk menyanyikan kembali bersama Titiek Hamzah. Lagi-lagi karya ini tidak terlalu dikenal. Baru kemudian pada tahun 1988 lagu ini dinyanyikan bersama-sama penyanyi lain yang tergabung dalam Musica Studio seperti Chrisye (alm), Rafika Duri, Betharia Sonata dan sebagainya dan menjadi lagu yang populer dan legendaris. Lagu Kemesraan versi terakhir ini adalah titik awal populernya lagu gaya ‘keroyokan’ di Indonesia yang saat itu memang sedang menjadi trend. Karya ini sampai sekarang menjadi lagu ‘wajib’ perkumpulan ibu-ibu atau acara seremonial lainnya.

4. Iwan Fals pernah membuat lagu berjudul ‘Anissa’ yang intinya bercerita tentang kelahiran putri keduanya (Anissa Cikal Rambu Bassae) dimana banyak peristiwa yang terjadi selama masih didalam kandungan. Sedianya lagu ini masuk dalam album ‘Aku Sayang Kamu’ pada tahun 1986. Namun tidak jadi dimasukkan dengan alasan pihak recording (Musica Studio) tidak mau mengambil resiko menampilkan lagu dengan lirik yang keras. Kalau kita baca sampul album ‘Aku Sayang Kamu’, pada bagian penata musik terdapat kata-kata Anissa namun lagu ini tidak pernah ada. Lagu ini sempat diputar di radio tetapi hanya sebentar. Beberapa fans fanatik beruntung bisa mendapat rekamannya dan menjadikan koleksi yang berharga.

5. Iwan Fals pernah mengusulkan nama ‘Septiktank’ sebagai nama grup band yang akan dibentuk pada tahun 1989 bersama Jabo, Yockie, Naniel, Nanoe, Innisisri, Totok Tewel dan Tatas. Namun beberapa personil menolaknya sehingga dilakukan lotere. Dan terpilihlah nama ‘Swami’ yang merupakan usulan dari Jabo. Ini plesetan dari kata ‘suami’ karena mereka semua sudah beristri. Nama Swami dan Iwan Fals tidak bisa dilepaskan dan melahirkan single hits yang begitu fenomenal sepanjang masa yaitu lagu ‘Bento’.

6. Pitat Haeng, sebuah nama yang mungkin asing ditelinga kita. Tapi tahukah anda, nama ini adalah nama samaran yang digunakan Iwan Fals. Nama ini dipakainya ketika menciptakan lagu yang cukup terkenal di era 90-an berjudul ‘Pak Tua’ untuk Elpamas sebuah grup band, dan pernah digunakan ketika membantu album ‘Bukan Debu Jalanan’ (1991) milik Sawung Jabo. “Pitat Haeng itu bahasa slengnya Jogja untuk Iwan Fals. Pitat itu Iwan, Haeng itu Fals. Dia pake nama itu karena nggak mau orang lain membeli album saya karena ada namanya. Dia punya pikiran yang baek”, kata Jabo. Iwan Fals suka membuat karya untuk orang lain dengan nama samaran. Dan kemungkinan masih ada beberapa nama yang belum pernah diketahui.

7. Album ‘Cikal’ (1991) adalah salah satu album solo paling dahsyat dalam sejarah karir Iwan Fals. One of Iwan Fals’s loose albums. Terdapat sentuhan jazz dalam beberapa lagu seperti ‘Proyek 13’ dan ‘Cendrawasih’. Kemampuan Iwan Fals menulis lirik disini benar-benar mengagumkan. Album ini hanyalah sebagian dari kejeniusan seorang Iwan Fals. Ini adalah album dimana Iwan Fals menanggalkan bayang-bayang Bob Dylan, dan dia melakukan dengan sempurna.

8. Album 'Hijau' adalah album Iwan Fals yang ‘melawan arus’. Namun album yang keluar pada tahun 1992 ini sangat istimewa, baik pengerjaan musik, lirik, maupun kisah dibalik prosesnya. Iwan Fals sempat akan membakar master album ini sebelum diproduksi. Alasannya Iwan Fals merasa tersinggung albumnya ditawar-tawar oleh dua produser dari Harpa Record dan Prosound yang bersaing ketat membeli master album ini. Setelah album ‘1910’ (1988), Iwan Fals tidak dikontrak lagi dengan Musica Studio. Akhirnya master album ini dibeli oleh Prosound seharga Rp.365 juta termasuk sampul yang dibuat Dik Doang dan video klip. Bayangkan nilai segitu pada 1992. Sayangnya album yang mengusung musik kontemporer berkualitas tinggi ini tidak terlalu laku. Bukan album yang mudah dikonsumsi telinga pendengar biasa. Dan lebih tepatnya bisa dibilang hanya yang mengerti musik yang bisa mengatakan album ini luar biasa.

9. Iwan Fals hanya membutuhkan gitar akustik dan harmonika untuk menghasilkan sebuah album yang mengagumkan dan luar biasa. Pada album ‘Belum Ada Judul’ (1992) dia kembali ke gaya awal. Walaupun karya Iwan Fals di album ini mengingatkan kembali pada karya-karya Bob Dylan, terutama tiupan harmonikanya, tetap saja kalau bicara soal album akustik ini adalah karya Iwan Fals yang paling maksimal dari yang pernah ada. Album ini direkam secara live hanya selama 6 (enam) jam.

10. Iwan Fals kembali mengusulkan nama nyeleneh untuk grup band barunya. Ia pernah mengusulkan nama ‘Duda’ untuk band yang formasinya tidak jauh beda dengan grup ‘Swami’ yang telah lama vakum. Namun usul itu ditolak, dan akhirnya sepakat menggunakan nama ‘Dalbo’ yang berarti anak genderuwo. Album ini meluncur pada tahun 1993.

11. Kalau diperhatikan, beberapa tahun terakhir ini kita tidak pernah mengetahui apa merk gitar atau alat musik lainnya yang digunakan oleh Iwan Fals juga musisi pendukung dalam setiap konsernya. Semua merk atau logo baik yang ada di alat musik dan sound system selalu ditutupi atau dihilangkan. Hal yang sama juga berlaku pada background panggung yang bersih dari sponsor.

12. Album ‘Manusia Setengah Dewa’ (2004) adalah sebuah album akustik Iwan Fals yang mengingatkan kembali kepada album ‘Belum Ada Judul’ (1992). Album ini sempat mendapat protes karena tampilan gambar di covernya. Album ini dikerjakan secara live dan memakan waktu 2 (dua) bulan. Yang menarik disini adalah, setelah proses rekaman sudah final dan siap diproduksi, Iwan Fals baru sadar kalau dia lupa memainkan harmonika. Untuk mengulang lagi jelas memakan waktu, akhirnya album ini total hanya menampilkan permainan gitar akustik Iwan Fals.

Kamis, 19 Agustus 2010

The Rock Indonesia ( T.R.I.A.D )



T.R.I.A.D (Dulu Dikenal The Rock) adalah band beraliran rock yang terbentuk di Indonesia. Band ini merupakan proyek sampingan dari personil Dewa 19, Ahmad Dhani, dan berada di bawah manajemen Republik Cinta, seperti Dewi Dewi dan Andra and The BackBone. Anggota lainnya adalah mantan anggota band underground asal Australia, Fire Shark, yaitu Mark Williams, Zachary Haidee-Keene, Michael Bennett, Clancy Alexander Tucker. Album pertamanya adalah Master Mister Ahmad Dhani I yang dirilis pada tanggal 30 Agustus 2007. Album tersebut menghasilkan hits "Munajat Cinta".

Awal mula

Awal pembentukan The Rock yaitu ketika Ahmad Dhani sedang merekam albumnya di salah satu studio di Australia, dan bertemu dengan anggota Fire Shark. Ide berkolaborasi membentuk The Rock bermula dari perbincangan antara Dhani dengan gitaris Fire Shark, Clancy Alexander Tucker. Karena baik Dhani maupun Fire Shark sama-sama ingin bermain di luar negeri (go international), mereka membentuk The Rock.Namun, Dhani tidak meninggalkan Dewa 19 dan Fire Shark tidak bubar. "Permainan musik mereka sudah lebih ke depan dibandingkan kita. Jadisusah kalau saya yang harus ikut mereka," katanya, seraya menyatakan Fire Shark adalah sebuah band yang mengusung musik 'hard core'.


Rabu, 11 Agustus 2010

DEWA 19



Dewa 19 adalah sebuah grup musik yang dibentuk pada tahun 1986 di Surabaya, Indonesia. Grup ini telah beberapa kali mengalami pergantian personil dan saat ini beranggotakan Ahmad Dhani (kibor), Andra Ramadhan (gitar), Elfonda Mekel (vokal), Yuke Sampurna (bass) dan Agung Yudha (drum). Setelah merajai panggung-panggung festival di akhir era 1980-an, Dewa 19 kemudian hijrah ke Jakarta dan merilis album pertamanya di tahun 1992 di bawah label Team Records.

Grup ini telah meraih kesuksesan sepanjang dekade 1990-an dan 2000-an melalui serangkaian lagu-lagu bergenre pop dan rock. Album yang mereka rilis nyaris selalu mendapat sambutan bagus di pasaran, bahkan album mereka yang dirilis tahun 2000, Bintang Lima, merupakan salah satu album terlaris di Indonesia dengan penjualan hampir 2 juta keping. Pada tahun 2005, majalah Hai menobatkan Dewa 19 sebagai band terkaya di Indonesia dengan pendapatan mencapai lebih dari 14 milyar setahun. Di tengah kesuksesan yang diraihnya, grup ini sempat beberapa kali tersandung masalah hukum, termasuk masalah pelanggaran hak cipta dan perseteruan dengan ormas Islam.

Jumat, 02 Oktober 2009

Hughes dan Obesitas


SEPULUHAN tahun lalu, Hughes mulai memikat penikmat televisi. Bukan, bukan karena dia cantik dan seksi. Hughes gemuk, pipinya tambun, pahanya gempal, dan jika tertawa, dia bergelak. Tawa atau senyum yang bukan lahir dari sekolah kepribadian. Seluruh penampilan dirinya adalah anomali di dunia industri televisi, yang mengagungkan citra ketubuhan.
Tapi Hughes melesat. Kecerdasan dan kemampuan komunikasi yang mumpuni membuat penikmat televisi tak mereweli tubuh Hughes. Apalagi, jika pun soal bobot itu dipertanyakan, Hughes selalu menjawab dengan riang dan cerdas.
“Yang utama itu bukan gemuk atau kurus melainkan sehat atau tidak. Banyak yang bertubuh seksi tapi hidup tidak sehat. Begitu juga sebaliknya. Sepanjang orang tersebut nyaman dengan tubuhnya, berarti tak ada yang perlu dikhawatirkan,” jelasnya dalam berbagai kesempatan.
Dan Hughes membuktikan hal itu.
Bobotnya yang di atas 100kg, tak mampu menahan aktivitasnya. Dia rajin berpindah kota, menularkan kecintaan dan cara mendidik anak-anak. Di atas panggung, geraknya pun amat leluasa, seirama dengan kemampuannya melantunkan diksi dalam setiap pertanyaan. Sebagai presenter, Hughes mampu menjembatani kebutuhan pembaca untuk mendapatkan informasi yang jernih. Tak heran, seirama penerimaan masyarakat atas dirinya, Hughes pun mulai mengampanyekan “Big is Beautiful”, besar itu indah. Hughes adalah contohnya.
Tapi itu dulu, sepuluh tahun lalu.
Lima tahun terakhir, Hughes jarang sekali tampil di televisi. Kecerdasannya, juga bobot tubuhnya, tak lagi dapat dinikmati pemirsa. Begitulah industri televisi, yang mengabdi dan mengabadikan politik tubuh. Keanomalian Hughes tak lagi “layak” jual, terutama ketika presenter yang cerdas tak lagi dibutuhkan. Penikmat teve sudah puas untuk tergelak bersama Tukul dan Budi Anduk, tanpa kedalaman, tanpa penikmatan pada kemampuan mengorek informasi. Hughes pun menjadi samar, terlupakan, menghilang….
Baru dua minggu terakhir ini Hughes kembali melenggang di layar kaca dan tabloid gosip. Bukan karena acara baru atau gosip rumah tangganya melainkan bentuk tubuhnya. Hughes kini tak segemuk dulu. Tubuh tambunnya sudah menyusut, demikian juga pipi gempalnya. “Iya, aku telah berhasil menurunkan 25kg berat badanku,” akunya sembari tertawa. Kamera pun kemudian menyoroti tubuhnya, dari kaki ke kepala, dan close-up pada wajah Hughes yang tampak cerah dan tertawa bahagia. Mungkin juga bangga.
Jika dulu Hughes memulai di layar kaca dengan “keajaiban” tubuhnya, kini dia kembali dengan pembuangan pada anomali itu. “Aku mau menurunkan 25 kilogram lagi,” tambah Hughes di Hotel Indonesia Kempinski dalam acara “Kartini in Me”. Dan seluruh cerita Hughes akhirnya adalah sejarah penurunan berat badan itu. “Olahraga. Sejak Januari aku olahraga 5-6 jam,” ceritanya. “Awalnya dimulai dengan naik sepeda selama 1 jam. Lalu treadmill. Mulanya, kalori yang terbakar selama 2 jam hanya 200 kalori. Selanjutnya naik terus hingga mencapai 1200 kalori selama 5-6 jam. Tapi aku imbangi lagi dengan diet. Aku tidak mengonsumsi karbohidrat,” tambahnya. Artinya, Hughes tak lagi menyentuh nasi, roti, dan jenis pati lainnya.
Perjuangan yang luar biasa. Media pun memamah “sejarah tubuh” itu, menyiarkan, untuk kian menguatkan mitos kecantikan.
Hughes memang menyadari kemungkinan penunggangan “ideologisasi” kecantikan itu. Dia pun mencoba kembali memakai mantra lamanya, penurunan berat badan itu bukan untuk mempercantik diri. “Nggaklah. Aku tetap bangga dengan bentuk tubuhku yang gemuk. Kalau sekarang lebih kurus itu karena ingin sehat. Nggak lebih.” Ceritanya, akhir tahun kemarin, dia acap jatuh dan merasa tubuhnya terlalu berat. Jika berjalan di tempat licin, dia acap terjatuh. Karena itulah, dia ingin kurus, untuk sehat, bukan mencari cantik.
Benarkah? Bukan karena permintaan suami, Roy Immanuel? “Sebenarnya Mas Roy tidak menuntut aku kurus, yang penting sehat saja. Tapi kemarin dia bilang aku lebih cantik kurusan. Hidung aku sekarang juga terlihat lebih mancung. Kelihatannya dia makin cinta. Senang juga sih dipuji suami,” akunya.
Seperti menyadari kontradiksi dari pernyataan di atas, Hughes cepat menambah, “Kecantikan itu bukan dari ukuran dan bentuk tubuh. Kurus itu pola pikir. Selalu berpikiran positif dan enjoy your life. Itu kuncinya. Cantik itu tidak perlu kurus.”
Kredo yang indah. Sayang, terdengar jadi semacam basa-basi, semacam upaya untuk terlihat tak mengkhianati “besar itu indah”. Karena, jika nanti target Hughes terpenuhi, turun 25 kg lagi, bobotnya hanya 60-an kilogram. Tubuhnya tak hanya terlihat sehat tapi juga seksi. Ahh, barangkali, itulah kini yang dikejar Hughes, untuk kian mendapatkan pujian dari suami, dan tentu, lirikan televisi. Sesuatu yang tak salah memang, seandainya kurus dan gemuk tak pernah dia jadikan semacam pengideologian.


Jumat, 11 September 2009

Kejujuran KD

Dapatkah kita hidup dalam citra, bergubal kebohongan, kamuflase, dan laku sempurna? “Harus!” kata Krisdayanti.
Tapi itu dulu.
Hari-hari ini, istri Anang Hermansyah itu mengakui, bernapas dalam kebohongan bukanlah sebuah kehidupan.
Dalam buku terbarunya, Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret, dia mengungkapkan banyak rahasia; dia tak pernah sempurna. Dadanya yang penuh itu lahir dari pahatan operasi. Pinggang yang langsing dan kulit bersih berseri datang bukan dari sebuah proses yang alami, tersaru obat dan suntikan di sana-sini. Rumah tangganya pun penuh cela. Anang pernah menceraikannya. Dia berkali-kali nyaris terperosok dalam liang perselingkuhan, dan dalam kegamangan, menjadikan sabu-sabu sebagai pegangan.
Apa yang kau cari, Krisdayanti?
Tahukah engkau, keterusterangan itu bukan saja menyakitkanmu, tapi juga banyak orang?
“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku tersebut, di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis 16 Juli lalu.
KD juga sadar, ada resiko dalam tiap kejujuran. Dan dia siap. “Keberanian itu baru muncul saat ini. Proses jujur dan ikhlas itu sulit. Inilah saat yang tepat,” ucapnya.
Kita tak tahu, tepat yang dimaksud KD itu dalam konteks apa. Tepat karena dia sudah melewati semua dan dapat berdamai dengan “kejahatan” itu, atau tepat untuk dijual, dikomersilkan. Karena, bagaimanapun, “kejujuran” KD mengandung anomali. Di buku pertama, yang memotret KD secara sempurna, dia percaya kesempurnaan akan menginspirasikan banyak orang. Profesionalitas itu penting bahkan yang utama. Di buku kedua, KD meyakini, masalah dia yang selama ini tersembunyi dapat menjadi inspirasi, memberi energi bagi orang lain. Di sini, kebohongan dan kejujuran mendapatkan tempat yang sama.
Anomali kedua, “kejujuran itu” dinyatakan secara provokatif dan promotif. Provokatif karena, “KD cerita komplet soal cintanya dengan Anang. Soal seks di mobil, stoking jaring-jaring yang khusus dia pakai untuk Anang,” terang Alberthiene Endah, penulis buku itu. Ditambah dengan, “KD bercerita betapa hangat dan liarnya percintaan mereka.” Promotif karena, “Buku ini berbeda. Semua cerita yang ada di sini tidak pernah saya ceritakan kepada media mana pun,” terang KD. Dan, “KD tidak pernah mau menangis di depan orang. Dia ingin melihat semua orang tersenyum. Itulah KD,” tambah Alberthiene.
Anomali ketiga, “kejujuran” itu pun masih memiliki rahasia. “Mengenai isu perselingkuhan, itu menyangkut nama orang, keluarga, maupun instansi yang tidak tepat untuk dibicarakan. Saya memutuskan untuk tidak menulis karena nanti itu akan menjadi sebuah prejudice,” ucap KD.
Anomali keempat, buku itu masih tampil dalam bentuk KD yang sempurna. Di dalamnya masih berisi foto-foto yang terkonsep dengan baik, dan memamerkan tubuh yang menyimpan banyak kebohongan itu. Porsi KD yang apa adanya, yang ikhlas itu, yang kini, dia akui, telah dia dapatkan, justru terasa tak ada. Sekilas, KD lebih terlihat bangga dengan hasil dari “ketidakjujurannya” selama ini.
Bagaimana kita membaca penelanjangan diri itu? Benarkah ini hanya “pengakuan” dosa saja, dan bukan pertobatan?
Dari Arswendo kita dapat mencari jawaban. Dalam novelnya, Blakanis, pengarang itu membicarakan kejujuran dalam konteks yang berbeda. Kejujuran yang tak memiliki banyak sisi, apalagi menyimpan rahasia. Kejujuran itu bukan saja membebaskan diri dari prasangka diri, tapi juga prasangka orang lain. Kejujuran pun bukan terletak pada pengakuan dosa, salah, khilaf, kepada orang lain, apalagi dikomersialkan, melainkan dalam laku. Jujur dalam laku tidak meminta tepuk tangan, anggukan, persetujuan, bahkan jepetan kamera. Tapi, “…Melakukan kejujuran, istilahnya hidup blaka,” kata Ki Blaka, tokoh utama novel itu.
Dan sampailah kita pada kesimpulan Ki Blaka, bahwa kejujuran punya musuh. “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. baik pura-pura jujur, atau pura-pura bohong.”
Kita, meski menemukan banyak anomali dari “kejujuran” Krisdayanti, tentu saja lebih baik tidak menduga bahwa dia tengah berpura-pura. KD, barangkali, hanya tengah mencoba menjual dirinya yang berbeda, yang tidak pernah dia ungkap ke media. Itu saja.
Dan, saya sendiri, entah mengapa, jadi ingat Manohara.

Jumat, 26 Juni 2009

Kesetiaan Anna?????

Diiringi petikan gitar Tito Soemarsono, dengan lirih, Gugun bernyanyi,“Kupersembahkan lagu ini. Sebagai tanda cinta kasihku. Padamu setulus hati ini untukmu… Kau permata hati….”
Di sisi kiri Gugun, Anna Marrisa, istrinya, mengejapkan mata, berkali-kali. Tangan kanannya terus sibuk mengusapi pundak Gugun. Dan ketika lagu itu sampai di bagian tengah, airmata Anna pun tumpah. Dia peluk Gugun, dia ikuti larik-larik lagu itu, dia biarkan pipinya basah….
Saya tahu, pikiran Anna tidak sepenuhnya berada di situ.
Berkali-kali dia terlihat menengadah, bukan saja menahan airmata yang akan tumpah, melainkan juga mencoba mengais kenangan lama, yang selalu hadir ketika lagu itu dinyanyikan. Di talkshow ”Just Alvin” itu, Anna terpenjara antara kenangan dan kenyataan.
Juga harapan.
Dan gelora cinta.
Tapi tangis itu, saya kira, setengahnya juga berisi rasa nyeri; kepedihan harus merawat cinta di tengah masyarakat yang mengimami gosip, dan menjadikan prasangka sebagai agama. Kesakitan ketika dia harus membuka diri, menyingkapkan rahasia, sehingga massa percaya bahwa benih yang tumbuh dirahimnya berasal dari pancaran cinta dan bukan tindak istri yang durhaka, bahwa Gugun masih seorang lelaki yang “bisa”.
“Banyak orang yang masih mengira Gugun mungkin nggak ‘bisa’. Aku dibilang melakukan dengan orang lain. Cuek sajalah. Yang tahu bagaimana sebenarnya, aku dan keluarga. Memang sih tidak seperti dulu, aku yang harus banyak memulai. Tapi dia bisa melakukannya, semua normal,” cerita Anna.
Tapi Anna tahu, cerita dia tak sepenuhnya dipercaya. Atau, jika pun ada yang percaya, juga dengan gelengan kepala, ketakmengertian, mengapa Anna tega berasmara-ria ketika Gugun masih setengah alpa.
Anna, atas nama cinta, juga untuk menjaga nama baik diri dan suaminya, akhirnya harus menelan kepedihan, dan menceritakan proses persetubuhannya, lengkap dengan lenguhannya. Ia tak kuasa untuk melawan “Insert” dan “Silet” yang telah diimani banyak orang.
“Aku harus goda-godain bagian tertentu di tubuhnya. Aku raba-raba. Aku taruh tangan dia di bagian tertentu tubuhku.
“Kalau mood-nya lagi bagus, kira-kira 10 menit, ada reaksi-reaksi kecil.
“Aku ‘karoke’ dia. Kadang aku suka ngomong gini ke dia, ‘Sayang, maaf ya, istrimu ini agresif, istrimu ini gila’.
“Selanjutnya normal, dia bisa mencumbu, dia bisa meremas, seperti normalnya saat kami ML. Tapi memang pelan, arah-arahan juga terus aku lakukan. Habis ini tangannya ke sini, ke situ. Sejak dua bulan lalu, dia sudah bisa posisi di atas. Juga posisi duduk, dia yang memangku aku.
“Kalau sudah dirangsang, diarahkan, selanjutnya mengalir begitu saja. Mencumbu, kissing-nya juga pagut-pagutan.
“Lamanya dia sekitar 20 menit sampai setengah jam. Tapi dengan jeda-jeda, nggak terus-terusan.
“Reaksi Gugun ya kayak dulu, ada suara-suara gitu. Kadang kalau aku tanya, ‘Yang, bagaimana? Enak?’ Dia bisa jawab, ‘Enak banget’.
“Minimal seminggu sekali, biasanya malam. Tapi buat aku, enaknya seminggu dua kali. Kapan saja melihat Gugun, aku pengin kok.”
Sedetil itu Anna bercerita, seberani itu dia membuka rahasia, masyarakat –seperti kata infotainmen– masih bertanya, apakah mungkin Gugun yang sempat sekian lama koma, bahkan pernah lupa nama diri dan istrinya, benar-benar ‘bisa’? Dokter Boyke pun diajak bicara. Ketika Boyke justru menguatkan cerita Anna, keraguan masih terus dipupuk, biar cerita masih seperti kerupuk, renyah dan kemriuk. Boyke diragukan, Naek L Tobing diundang. Hasilnya sama. Ketaklumpuhan Gugun menjadi indikasi tentang kelelakiannya yang tak ikut piuh.
Infotainmen percaya? Tentu tidak. Pertanyaan terus dilemparkan, meskipun Gugun ‘bisa’, tapi apakah spermanya dapat membuahi? Maklum, setiap hari Gugun harus menelan 22 jenis obat kimia. Tidakkah spermatozoa-nya terganggu?
Tentu, dokter pun, tanpa meneliti, tak bisa memberi jawaban pasti. Dan ketakpastian itulah yang dicari infotainmen untuk berspekulasi. Anna, setelaten apa pun dia mencinta dan merawat Gugun seperti terlihat di kamera, sebanyak apa pun airmata yang dia tumpahkan, dalam kondisi ini, tetaplah didudukkan sebagai terdakwa. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi pembela, yang menyaksikan persetubuhan mereka.
Wajarlah ketika Alvin bicara, “Mas Tito, Mas Riko Ceper, Mas Sys NS, semua yang hadir di sini, datang untuk Gugun. Agar Gugun cepat pulih, cepat sehat, agar kita dapat lagi bersama-sama. Agar Gugun tahu bahwa banyak sekali yang berdoa untuk kesembuhan Gugun…” Anna tak mampu menahan isaknya.
Sedu itu, bagi saya, adalah gugatan Anna kepada media, yang telah mendudukkannya menjadi terdakwa, sebagai istri yang tak setia. Dalam tangis itu, saya percaya, Anna pasti berdoa, “Yang, cepatlah sehat, cepatlah bicara. Jadilah pembela, untukku, untuk anak kita….”
Melawan infotainmen, duh, betapa pedihnya....

Senin, 19 Mei 2008

Gosip Tamara dan Socrates




 Untuk pemamah gosip, Socrates punya nasihat.

"Selama dua tahun ini saya terus difitnah, dihina, dan bahkan semua itu sudah terlewat keji sehingga menyebabkan marah saya sudah sampai puncaknya. Saya benar-benar marah, dan mohon maaf atas kemarahan itu. Saya ini manusia biasa...." ujar Tamara, pelan.

Dalam jumpa pers di La Citra Cafe, Pondok Indah, Jakarta Selatan itu, Tamara hanya berbicara pendek. Itu pun terbata-bata, tertahan amarah. Selebihnya, keterangan diberikan oleh pengacaranya, Muhajir Sodruddin. Intinya, Tamara membantah gosip bahwa dia tengah hamil. Dia juga percaya, semua gosip atau fitnah yang menimpanya selama ini, bukan atas campur tangan Rafly, mantan suaminya. Dan karena berada di batas sabar, Tamara akan menempuh langkah hukum untuk setiap gosip atau fitnah yang ditujukan padanya. "Bila ada unsur-unsur tindak pidana, kami akan tempuh jalur hukum. Terutama kalau tahu siapa yang menyebar fitnah," tandas Muhajir.

Sabtu, 03 Mei 2008

Cara Terhormat Melawan Dewi Persik

Bagi Dewi Persik, panggung bukanlah ajang pamer suara, melainkan olah-senggama. Orgasme tujuannya.
Wajah Dewi Persik memerah. Duduk di samping Hj Endah Murnalita, penasihat hukumnya, dia tak dapat lagi menahan marah. "Kata-kata Dewi Persik telah merusak moral, itu yang saya tidak bisa terima," ketusnya seperti terlihat di "Selebrita" Global TV (23/4). "Saya sedih karena semua ini dibuat untuk kepentingan politik!" tambahnya.

Dewi memang tengah gundah. Walikota Tangerang, Wahidin Halim, melarang dia bergoyang. Walikota Bandung, Dada Rosana, juga melakukan hal yang sama. "Coba saja dia minta izin, pasti tidak saya izinkan. Kecuali dia mau mengubah goyangan dan penampilannya," ucap Dada. Namun Dewi dan penasihat hukumnya yakin, larangan itu hanya upaya untuk menarik simpati warga. Kedua walikota itu ternyata tengah bersiap ikut pilkada, dan mencalonkan diri untuk kali kedua.

"Memang kami tidak ingin ini jadi politis. Makanya, kamu tidak mau menanggapi lagi. Tujuannya pilkada," terang Murnalita.

Dada Rosada jelas membantah motif politik itu. "Saya cuma memenuhi permintaan warga," katanya sebagaimana ramai dikutip media.

Warga, masyarakat, memang acap dijadikan alat atau alasan untuk bertindak. Forum Pembela Islam pun, atas nama keresahan umat, membakar kaset dan CD Dewi Persik. Forum itu bahkan siap membubarkan panggung Dewi jika mantan istri Saipul Jamil itu tak juga mau berubah. Tapi, apakah yang dimaksud dengan warga, masyarakat atau umat, sebenarnya?


Ubah Persepsi

Goyang Dewi Persik memang sensual. Bahkan dalam beberapa penampilan, seperti yang acap ditunjukkan ragam infotainmen, sangat erotis. Dewi tak cukup hanya menggoyangkan pinggul seperti Nita Thalia, atau memutar pantat seperti Inul, tapi menggelepar-gelepar di panggung, kadang bergaya seolah bersanggama. Eskpresinya pun bukan seperti orang yang tengah bernyanyi, melainkan raut yang sedang bercinta. Bagi Dewi, panggung adalah arena dia untuk berolahasmara, dan dia selalu memperoleh orgasme karenanya. Yang ditampilkan Dewi pada intinya bukanlah pertunjukan suara tapi olah kamasutra. Karena itulah, tak terdengar suara yang mendukung Dewi ketika terjadi pelarangan dan pencekalan di Bandung dan Tangerang, atau pembakaran oleh Forum Umat Islam. Warga, umat, masyarakat, seperti berada di seberang dirinya. Dalam hal inilah, Dewi berbeda dari Inul.

Inul juga pernah seperti Dewi, dilarang dan dikecam, bahkan oleh pemilik "otoritas" Dangdut, Rhoma Irama. Tapi apa yang terjadi kemudian, Inul justru tak pernah merasa sendirian. Selalu ada bagian dari warga, umat, atau masyarakat, yang berdiri di sisinya, membelanya. Sebabnya, Inul bertindak lebih cerdas daripada Dewi.

Ketika larangan dan kecaman datang, Inul tidak mencoba melawan sendirian. Dia minta bantuan dan sowan ke berbagai banyak orang. Inul tahu, "fatwa" Rhoma bukanlah kebenaran satu-satunya. Dia ke Gus Dur, dan teryakinkah untuk tak boleh mundur. Inul memberi "agenda" bahwa yang dia perjuangkan bukanlah soal goyangan semata, melainkan haknya sebagai seorang wanita untuk mencari makan. Inul mengubah persepsi larangan itu jadi pencekalan atas keinginannya untuk menjadi tulang punggung keluarga, hak anak untuk membuat orangtuanya bahagia. "Saya hanya mencari makan dengan bergoyang. Apakah saya salah?" tanyanya.

Publik pun terbelah. Sebagian bahkan jadi berubah arah, mencoba memaklumi. Apalagi, media pun menaruh simpati pada istri Adam Suseno ini, dan memblow-up hal itu menjadi isu feminisme. Dangdut bahkan mendapat gugatan, moralitas, juga agama. Emha Ainun Najib sampai menulis "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua", dan KH Musthofa Bisri pun menjadikan Inul sebagai tema lukisan. Inul menjadi "gelombang" justru karena dia bisa mengajak orang untuk berpikir bahwa apa yang dia perjuangkan bukan semata soal goyang.

Dewi Persik tak mampu mengubah itu. Dewi terlalu angkuh untuk meminta bantuan dan melawan sendirian. Dia bahkan menantang, melawan, tanpa meminjam mulut orang. Dewi jadi terkesan arogan. Dewi tak mencitrakan diri sebagai sosok yang lemah dan terhina. Dan karena itulah, pembelaan pun tak datang dari "ibu semua artis", Titiek Puspa.

Secara sadar, Dewi Persik justru mencitrakan diri sebagai perempuan yang bebas menjual sensualitas. "Siapa yang tidak mau? Sudah enak, dapat duit lagi," katanya, ketika ditanya mengapa mau beradegan intim dalam film Tali Pocong Perawan. Dewi membuat orang tahu, bahwa sensualitas, goyangan syawat dan mimik orgasme itu, adalah pilihan sadarnya untuk mencari uang. Dewi melakukannya dengan riang.

Inul sebaliknya, mencitrakan diri sebagai perempuan yang terpaksa. "Hanya bernyanyi itu yang aku bisa," katanya dulu. Inul membuat orang berpikir bahwa dia, dengan latar belakang religiusitas keluarga, pun tak bangga menjual goyangannya. Untuk orang yang terpaksa, warga, masyarakat, umat, pasti gampang memberi maaf.


Uji Pasar

Dewi memang secara sadar menjual sensualitas goyangnya. Dia memang tak perlu dibela, dan tentu, tak usah juga dicekal atau dilarang. Pelarangan, pencekalan, atau pembubaran dan pembakaran, bagaimanapun adalah wujud dari sikap yang tidak dewasa. Dewi seharusnya dibiarkan saja. Masyarakat, warga, atau umat, harus terbiasa untuk terbuka pada perbedaan, keanekaragaman. Goyangan Dewi Persik bahkan penting untuk membuat beda antara mutiara dan sampah.

Dewi Persik adalah produk yang lahir dari mekanisme pasar. Dia tumbuh dan berkembang --lihatlah modifikasi goyang Dewi-- karena memenuhi hukum permintaan. Harus diakui, di luar umat atau warga yang menentang, ada juga warga dan umat yang lain justru memuja Dewi. Sebagian warga, umat, atau penonton, yang tidak suka harus bisa melihat Dewi bukan "bagian dari kita", bukan milik "kita", melainkan produk dan hak warga yang lain. Dan sangat tidak benar, apa pun alasannya, untuk melarang, atau menghakimi, sesuatu yang bukan menjadi bagian dari milik sendiri. Sebagai bagian dari "mereka", Dewi bebas melakukan hak-haknya. Dengan cara itulah warga jadi dewasa, menghargai heterogenitasnya.

Lalu pemerintah? Pemerintah harus berada di antara warga. Pemerintah atau pemda, harus menjamin warga menikmati kesetujuan dan ketidaksetujuannya, dan tidak menjadi "beking" salah satu di antaranya. Negara harus menjadi wasit, agar tidak terjadi pemaksaan selera dari satu warga kepada warga lainnya. Negara harus berdiri di tengah, agar antara warga yang berbeda tidak bertindak sendiri, menjauhkan anarki. Dengan kata lain, negara atau pemerintah, harus membiarkan proses pasar.

Dewi adalah produk pasar dan harus dilawan di pasar. Jika sebagian warga takut goyangan Dewi merusak moral, lawanlah hal itu dengan membuat dan memasuki pasar dengan produk yang berbeda. Juallah Dewi yang berbeda, yang tidak merusak sendi moral dan agama, Dewi dangdut yang tidak bergoyang erotis di panggungnya. Penganjur moral harus mulai dewasa untuk tidak melakukan larangan atau kecaman saja, melainkan membuat dan memasarkan produk yang memenuhi tuntunan moralitasnya. Biarkan pasar yang mengujinya.

Kini saatnya untuk belajar dari Ayat-ayat Cinta, bahwa kebaikan, bahkan "film khotbah" pun memiliki pasar jika dikemas dan dimanajemen secara benar. Bahwa pasar bukan saja menerima hantu, pocong atau perselingkuhan, tapi juga "malaikat" dalam bentuk Fahri, dan cinta dalam wajah poligami. Dan Dewi, bukankah tidak sendiri? Telah ada Ustad Jeffry yang berdangdut dalam barzanzi, melayani, melawan "pasar" Dewi. Dan itulah perlawanan terhormat dalam era liberalisasi.


Selasa, 01 April 2008

Kemenangan Indra...

Indra Brugman kalah juga. Berkali dia mengucek, menahan cairan hangat itu
jatuh, namun ketika di sudut kanan, matanya menangkap isakan Mama Mimi,
tangisannya pun pecah.

 Ya, Indra kalah, melawan kenangan pedih ketika melihat Mama Mimi berjualan gorengan untuk membiayai keluarga mereka. Dia tahu betul bagaimana pengorbanan Mama Mimi saat itu, tapi Indra tak kuasa membantu. Itulah sebabnya, ketika di Jakarta, setiap
ada penjual gorengan, Indra selalu membelinya, kalau bisa
menghabiskannya. "Karena saya selalu berdoa, di sana, di rumah, ada
juga yang membeli gorengan Mama, dan menghabiskannya..."

Selasa malam itu (26/2), panggung grandfinal "Supermama Seleb Concert" jadi milik Indra. Semua penonton seperti terhisap pada kenangan masa lalunya, yang demikian pedih. Tak ada lagi akting. Indra luruh, dan mengisak, tangisan anak yang demikian sakit karena merasa dalam salah satu episode hidupnya, pernah membuat sang mama berkorban terlalu besar. Dia peluk Mama Mimi, dia abai pada ingus yang jatuh dari
hidungnya. "Terimakasih Mama, terimakasih..." bisiknya.

Di belakang mereka, Eko Patrio menangis.Di sisi kiri, di jajaran peserta, Mama Lutfia, terisak. Tangannya digenggam Adly, putranya, seakan memberikan kekuatan, untuk tak larut dalam kesedihan.Ruben Onsu, yang selalu bercanda gila, seperti kehilangan suara. Ivan Gunawan, yang meminta Indra bercerita, memandang dengan mata berkaca. Dia juga menahan sedu sedan. Panggung "pesta" itu senyap. Isakan, suara tangis, menjadi orkestra yang demikian indah, musik yang bercerita kasih anak dan orang tua.

Dan Eko kemudian memberi nilai yang lebih dalam lagi. Sehabis melap matanya, dengan
suara yang belum bebas dari tangis, dia berkata, "Yang penting dari kita adalah bukan di posisi mana saat ini, melainkan bagaimana cara kita bisa meraih posisi itu." Ya, Eko benar. Yang menggetarkan dari pengamanan Indra Brugman bukanlah posisinya sekarang sebagai aktor terkenal, melainkan perjuangannya meraih itu semua. Dengan kata lain,
Indra meraih semua posisi itu dengan tidak menggadaikan kehormatannya,
harga dirinya. Indra membayar pantas, tanpa jalan pintas.

Apa yang dilakukan Indra, dengan demikian, nyaris jadi anomali dalam dunia industri. Ketika semua orang ingin cepat populer, yang patuh pada proses, sering terlindas. Yang cepat, dapat. Jalan pintas, wajar dan benar. Industri membuat semua orang lebih menghitung posisi. Berada dalam satu status, terutama selebritis, adalah segalanya. Apa pun boleh dikorbankan untuk meraih itu. Kita tahu berbagai rumor seram dalam hal itu, mulai membayar juri, "menjual" keperawanan, sampai menjadi istri simpanan, hanya untuk meraih sebuah peran.

Dan banyak artis yang mengakuinya, kemudian. Mereka seakan mengatakan bahwa hal
itu adalah harga dari sebuah popularitas, sebuah tujuan. Moral orang kebanyakan jadi tidak cocok sebagai ukuran. "Gue terpaksa melakukan itu," kata Cut Memey, ketika statusnya sebagai istri simpanan Jakcson terungkap. Alm Alda Risma pun punya "sejarah" yang sama, juga Mayangsari, tentunya. Dan yang tak terbantahkan, "si kembar" Sarah dan Rahma Azhari.

Maka, terasa ajaib, ketika di tengah tangis panggung "Supermama seleb Consert" itu, Eko menegaskan bahwa posisi tak terlalu berarti. Barangkali Eko tahu, sangat sedikit artis kini, yang meraih posisinya dengan meneteskan airmata, dan terus berjuang, tetap sebagai manusia. Eko mengerti, karena seperti Indra, dia pun melakukannya. Mereka bermimpi dan mewujudkan mimpi itu dengan sempurna, sebagai buah usaha dan doa. Tangis malam itu, adalah isakan mereka yang bahagia, tetap memilih menjadi manusia, di jalan yang menjadi binatang pun akan dianggap biasa. Tangis itu adalah perayaan kemenangan mereka....

Jumat, 05 Oktober 2007

Sensualitas Julia Perez

Yang pertama kali diserang oleh tubuh-tubuh sensual adalah pikiran, bukan mata. Semua yang hadir di televisi seharusnya merupakan impian dari para penonton. Demikianlah apologi yang pernah diucapkan oleh Raam Punjabi. Raja sinetron ini yakin, penonton teve adalah makhluk-makhluk yang letih dan mencari kesenangan dalam aktivitas menonton. Karena itu, dia pun membuat sinetron yang memenuhi hasrat dari para penonton yang letih oleh kehidupan real mereka.

Keyakinan Raam Punjabi ini, harus kita akui, juga menjadi kepercayaan mayoritas penggagas acara di televisi. Karena itulah, sampai kini format acara di televisi nyaris tak pernah berubah. Memang acara-acara baru selalu hadir, menawarkan kesegaran baik dari segi cerita dan penampil, namun masih selalu dalam esensi yang sama, sekadar menghibur pemirsa. Dan karena motifnya menghibur dan memberi mimpi, satu hal yang pasti, acara-acara televisi tersebut acap tidak "membumi".

Dengan kacamata yang sederhana, pemenuhan hiburan dan impian pemirsa itu diwujudkan dalam dua bentuk: glamouritas dan sensualitas. Dengan menampilkan dua hal itu, penggagas acara di teve yakin tayangannya akan popular dan meraih rating tinggi. Keyakinan yang memang tak bertepuk sebelah tangan. Karena itulah, tubuh-tubuh sensual selalu berseliweran di setiap acara. Sensualitas yang selalu dipadukan dengan kehidupan glamour.


Ikon Sensual

Sinetron adalah pemasok utama tubuh-tubuh seksi dan kehidupan glamour. Namun, acara lain pun, merasa tidak nyaman jika tidak menyisipkan sensualitas. Komedi misalnya, pasti selalu menghadirkan tubuh-tubuh sensual, meskipun hanya sekadar untuk dipamerkan pada penonton dan jadi ajang pelecehan di panggung. Srimulat sukses memakai ajian ini. "Extravaganza" juga pintar meramu, dengan memakai tubuh seksi para bintang tamu. Yang terkadang lucu, tubuh sensual pun masih "dijual" dalam acara bola. Komentator bola di Anteve misalnya, selalu ditemani bintang tamu bertubuh aduhai, yang gugup berbicara tentang bola.

Ya, Anteve yang tengah berubah tampaknya menyadari bahwa sensualitas dan glamouritas adalah cara mujarab meraih popularitas. Tak heran, lebih dari stasiun lain, teve ini menggelar sensualitas dalam bentuk massal. Ikon-ikon tubuh sensual pun dipajang dalam tiap acara untuk sajian visual yang menjerat mata. Anteve bahkan "memasang" Julia perez sebagai tenaga marketing sensualitas itu.

Semula, kehadiran Julia Perez memang hanya selintasan di dalam puluhan acara di Anteve. Namun, belakangan ini, tubuh Jupe justru menjadi "magma" dalam acara unggulan. Kehadiran Jupe yang rutin pertama kali muncul dalam "Seleb Mendadak Dangdut". Dalam acara ini, Jupe bahkan sengaja dilawankan dengan Rachma Azhari, yang membuat keduanya tampil menggila, dengan busana serba terbuka. Sesi satu panggung keduanya adalah pameran tubuh dan goyang sensual, yang membuat penonton di studio acap terperangah, dan juri kehilangan kata-kata. Kadang, demi sensualitas, busana yang mereka kenakan justru membuat goyang mereka tidak leluasa. Karena, jika tetap bergoyang, dapat dipastikan pakaian mereka tak akan lagi mampu tersangga oleh dada. "Jupe bagus, tapi barangkali karena busananya ya, jadi tidak bisa maksimal pergerakannya. Saya maklumlah..." kata Liza Natalia, salah satu juri "Seleb Mendadak Dangdut".

Acara ini memang menjual sensualitas. Tak heran jika kemudian Jupe pun menang. Saat ini, popularitasnya memang tak terlawankan oleh dua Azhari, Rachma dan Sarah, sekalipun. Lepas dari "Seleb Mendadak Dangdut", Jupe masih dijerat Anteve dalam "Seleb Dance". Dia didapuk sebagai pembawa acara. Dan untuk peserta, ditampilkan "ikon" tubuh sensual lain, Tessa Mariska, yang "matang" dalam acara "Komedi Nakal" di TransTV.

Dan penampilan perdana Tessa Mariska bersama Andre, benar-benar mengguncang panggung "Seleb Dance". Busananya yang terbuka di bagian dada, tak menghalanginya untuk bergerak liar, yang membuat bagian tubuh itu terekspose demikian bebas. Penonton berteriak, heboh, tapi juri justru terhenyak. "Bagi saya itu bukan dance, tapi kecelakaan," nilai Joko Anwar, salah satu juri. Shanty, juri yang lain, bahkan hanya bengong. Dia tak bisa berkomentar apa pun. Julia Perez sendiri mengaku keringatan melihat penampilan Tessa Mariska. Juri memberi nilai jelek untuk penampilannya. Tapi sampai kini, Tessa-Andre lolos terus. Ini bukti, bukan kemampuan menari, tapi eksplorasi sensualitas tubuh yang menjadi nilai utama.

Tak cukup hanya menjadi pembawa acara di "Seleb Dance", Julia Perez pun didapuk sebagai panelis di "Silat Lidah", yang juga tayangan baru di Anteve. Jupe termasuk panelis yang rutin tampil, mendampingi Ria Irawan, Melissa Karim, dan Ratna Sarumpaet. Acara ini, seperti pengakuan sang host Irwan Ardian, hanya menampilkan perempuan yang sensual tapi berotak kosong.


Serang Pikiran

Kehadiran Julia Perez di tiga acara baru itu memberi tanda bahwa sensualitas adalah anak kandung dunia hiburan. Dengan cara apa pun, kehadirannya tidak bisa ditampik. Sebab, selain menghibur, sensualitas juga membuat penonton melakukan identifikasi hasrat. Penonton perempuan misalnya, secara tidak sadar akan mengidentifikasikan hasrat tubuh idealnya pada diri aktris seksi idamannya. Sedangkan penonton lelaki mendapatkan pemenuhan imaji tentang objek hasratnya. Dua hal ini berkelindan, membentuk imaji harapan tentang idealisasi hasrat yang beroleh pemenuhan.

Julia Perez adalah akrtis yang tahu bagaimana menjual sensualitas tubuhnya. Seluruh aktivitasnya, gerak tubuh, lirikan mata, busana, sampai duduk, tak pernah lepas dari pembentukan imaji tentang tubuh yang ideal dan nikmat. Dalam satu sesi "Silat Lidah" misalnya, Ria Irawan membantah penilaian Irwan bahwa Jupe memiliki dada besar. "Yang besar ganjelannya," sergah Ria. Namun, Jupe tidak gusar. Dengan membusungkan dada, mendesah dan meleletkan lidah, dia berkata, "yang penting einakk boo..."

Citra sensual Julia Peres yang sudah "jadi" inilah yang dimanfaatkan Anteve untuk mendongkrak acaranya. Sebagai ikon sensualitas, Julia Perez kini tidak perlu lagi membuka busana untuk memamerkan kemolekan tubuhnya. Karena saat ini, nyaris di benak semua orang, mendengar kata Julia Perez saja, sudah terimajikan tubuh sensual yang hanya ditutupi selembar benang. Dan di sinilah kelihatan betapa mengerikannya dampak tayangan yang memuja sensualitas. Karena yang pertama kali diserang adalah pikiran dan bukan mata. Julia Perez bisa saja tampil di televisi memakai pakaian tertutup di bulan Ramadan ini. Tapi, di benak penonton, yang tergambar adalah Julia Peres yang selalu kehilangan busana. Anteve tahu benar memanfaatkannya.

Senin, 03 September 2007

Apel dan Singkong di Paha Lasmini


Lasmini tersenyum. Dia terus berjalan, seolah tak menyadari puluhan pasang mata yang mengawasinya dari semak dan rerimbun tegalan. Di ujung jalan, langkahnya berhenti, dan sambil membusungkan dada, dia berteriak, "Kisanak, keluarlah! Berapa lama lagi kalian akan terus bersembunyi?!"

Dan dari rerimbun singkong, dua lelaki berkumis bapang keluar, mengadang jalannya. Di sisi kanannya, dari balik jajaran pohon pepaya, dua lelaki gemuk, ngakak gagak, mengurungnya. Tapi Lasmini tetap tenang. Dia tahu, percakapan panjang tak akan ada gunanya. Sambil tetap tersenyum, dia geser kaki kanannya membentuk kuda-kuda. Lasmini telah bersiap diri untuk menghadapi kemungkinan apa pun.

Ya, pasti, pertarungan akan terjadi. Pertempuran yang "indah", bukan karena kelihaian jurus dan kehebatan tenaga dalam, melainkan kelebat tubuh Lasmini yang membuat paha kuningnya acap terpamerkan, perut dan belahan dadanya yang jadi gampang tertangkap kamera. "Lasmini adalah sinetron yang paling saya suka," kata Ayu Anjani, sang pemeran utama di sinetron laga itu, yang nyaris tiap tengah malam tayang di Anteve.

Namun, selain paha dan dada Lasmini, ada beberapa hal lain yang membuat saya selalu menunggu sinetron ini. Pertama, sinetron ini mendekatkan saya dengan masa kecil, senja yang selalu digemai dengan sandiwara radio "Saur Sepuh" dan "Babat Tanah Leluhur". Lasmini adalah tokoh sentral di sini, yang digambarkan sensual, centil, dan tentu saja, sakti. Suara Ivone Rose yang sungguh seksi, apalagi saat dia mendesah menggoda Raden Bentar, melambungkan imajinasi kecil saya ke sudut keliaran yang terdalam. Meski sinetron Lasmini memangkas imajinasi tersebut, yang lari dari pakem cerita di radionya, namun perhubungan kenangan itu tetap saja otomatis terjadi.

Kedua, sinetron ini, juga sinetron laga pada umumnya, berada dalam sebuah lingkup "sejarah" atau epos besar. Lasmini misalnya, diletakkan dalam situasi Kerajaan Pasundan. Akibatnya, mau tidak mau, terkadang cerita fiktif itu harus memasukkan data-data sejarah tentang kerajaan Pasundan dan atau Prabu Siliwangi, juga tentu, struktur kemasyarakatan pada saat itu. Jadi, di balik kelebat tubuh para jagoan dan betinaan, penonton juga mendapatkan renik-renik sejarah, yang bisa dibaca sebagai variasi atau versi lain dari sejarah babon kita. Hal yang sama misalnya, juga dilakukan drama Korea Jewel in The Palace yang tayang setiap sore di Indosiar. Drama itu sangat detil menampilkan Korea tempo dulu. Bukan saja pilihan latar, cara ujar, dan arsitektur bangunan didekatkan dengan situasi asli pada era kerajaan itu, bahkan beda jenis pakaian dan sandal antara kelas masyarakat pun tak lalai ditunjukkan. Drama itu secara piawai menghadirkan masa lalu dengan potret senyatanya. Dan, hal semacam itulah yang sangat sulit ditemukan dalam sinetron laga kita, yang menjadikan latar sejarah hanya sebagai sejarah-sejarahan saja.



1000 tahun Singkong

Dalam adegan Lasmini di atas misalnya, sepintas tak ada yang bermasalah. Penonton akan menganggap wajar pengadangan itu terjadi di tegalan yang ditumbuhi rerimbun pepaya dan singkong. Penonton pasti juga merasa tak terganggu dengan jenis sandal bertali Lasmini, jenis bahan dan gaya busananya. Atau motif kain, ragam senjata, dan jalinan ikat kepala para penjahat. Semua dapat diterima dalam sebuah kewajaran cerita, tak mengganggu, bahkan menambah seru. Namun, jika cerita itu diletakkan dalam latar peristiwa, masa kerajaan Pasundan, akan terciptalah puluhan pertanyaan menyangkut hal di atas. Misalnya konsep tegalan, apakah sudah dikenal pada saat itu? Atau motif batik, sandal menali ke betis, dan gaya berpakaian, apakah memang demikian adanya? Baiklah, penonton bisa menafikan hal itu. Tapi, jajaran pohon pepaya dan rerimbun singkong, dapatkah diterima sebagai kenyataan dari sebuah latar yang dipilih berada di masa keemasan Pasundan?

Kehadiran singkong, entah dalam bentuk pepohonan atau makanan, memang lazim dalam sinetron dan sinema laga kita, untuk menggambarkan kehidupan strata bawah masyarakat. Berbagai sinetron berlatar sejarah kerajaan Majapahit sampai Mataram Islam, acap meletakkan kehadiran kebun singkong dan atau panganan singkong. Padahal, dalam kesejarahannya, singkong dan atau pepaya, tidak mungkin telah "lahir" di masa itu. Ubi kayu atau singkong misalnya, pertama kali hadir justru bukan di tanah Jawa, melainkan di kepulauan Maluku. Itu pun di masa yang jauh kemudian, ketika petualang Portugis membawa tanaman itu dari Amerika Selatan dan mencoba membiakkannya di Maluku. Ingat, kedatangan Portugis tentu di era yang sangat berbeda jauh dengan Majapahit, Pasundan, dan atau Mataram.

Di tanah Jawa, menurut Haryono Rinardi dalam Politik Singkong Zaman Kolonial, sampai tahun 1850-an, singkong belum menjadi tanaman palawija. Hal itu karena jenis singkong dari Amerika Latin tidak cocok ditanam di tanah Jawa. Baru pada tahun 1854, setelah didatangkan varietas singkong dari Kepulauan Antilen Kecil di Karibia, residen di Jawa dan Palembang diperintahkan Belanda untuk mulai menanamnya. Dan setelah tahun 1870-an, singkong ditanam secara besar-besaran di Pulau Jawa akibat meningkatnya permintaan dari Prancis, yang menjadikan ubi kayu sebagai bahan mentah minuman keras pengganti anggur.

Bayangkan, baru 1870-an singkong dijadikan perkebunan di tanah Jawa, tapi mengapa ubi kayu sudah "hadir" dalam sinetron Lasmini, dan cerita berlatar kerajaan lainnya? Itu berarti, oleh perajin sinetron, kelahiran singkong dimajukan nyaris 1000 tahun!


Teh dan Apel

Selain singkong, teh dan apel pun acap tampil dalam sinetron laga kita. Memang, teh hadir bukan sebagai minuman, melainkan menjadi latar pertarungan dan percintaan. Bertarung, lari dan sembunyi di rerimbun teh menjadi hal lazim, sebiasa berkejaran dan bercinta di kebun teh. Padahal, seperti singkong, teh juga bukan tanaman asli Indonesia. Setelah dipopulerkan oleh pedagang Cina dan Arab ke penjuru dunia, teh sampai di Nusantara berkat tangan Andreas Cleyer, yang mencoba membiakkannya di perkebunan Batavia, tahun 1686. Tak ada catatan lengkap mengenai keberhasilan usaha ini. Situs wikipedia pun tak memberikan penjelasan berarti soal Andreas Cleyer. Namun, lewat wikipedia juga, ditemukan sebuah fakta menarik bahwa perkebunan pertama teh di Nusantara baru berhasil di tahun 1828 berkat tangan dingin sinyo JLLL Jacobson. Sebelum itu, meski ada, teh hanya berupa tanaman sporadis, bukan berbentuk perkebunan untuk kepentingan komersial. Jadi, bayangkanlah kehadirannya dalam kebun-kebun penduduk di era kerajaan dulu. Aneh bin ajaib.

Jangan tertawa dulu, karena "penghadiran" singkong dan teh belum seberapa menggelikan. Apel-lah yang memegang rekor kenaifan sejarah ini. Seperti singkong, apel diposisikan sebagai makanan juga, tapi untuk strata atas. Dan kehadirannya acap tertampil sebagai latar dalam sebuah persidangan agung di istana. Dalam sinetron berlatar kerajaan, nyaris kita saksikan selain para pengawal, piala atau nampan makanan pasti menemani duduknya sang raja di singgasana. Dan di atas piala atau nampan buahan itu, dengan "sombong" tampak apel merah. Istana dan raja yang dikelilingi bebuahan mewah, anggur, apel, dan lainnya. Tidakkah pengerajin sinetron itu berpikir, bagaimana caranya apel bisa sampai ke masa itu? Barangkali, hanya raja Brama Kumbara yang bisa menikmati apel itu, karena dia memiliki rajawali sakti yang dapat terbang dan mencapai Amerika, lalu meletakkan apel di dalam paruh besarnya. Itu pun dengan syarat, rajawali tersebut dapat terbang secepat Boeing 747, atau ada lemari pendingin di dalam paruhnya!

Kalau sedikit cerdas, tentu yang hadir sebagai bebuahan raja adalah apel hijau yang dapat penonton identikkan dengan apel Batu, dari Malang. Namun malangnya, apel ini pun baru ditanam di "Indonesia" sekitar tahun 1934. Jadi, sebenarnya, tidak ada satu pun alasan sejarah yang dapat membenarkan kehadiran apel sebagai bebuahan para raja. Demikian juga singkong, teh, kopi, bahkan padi. Karena, menurut sejarawan Prof Dr Soegijanto Padmo, sampai abad ke-19, menanam padi belum menjadi tradisi orang kebanyakan di tanah Jawa.

Jadi, jika Anda menonton sinetron laga berlatar kerajaan di masa Nusantara, janganlah ikutkan pengetahuan sejarah. Tayang di tengah malam, seperti juga Mak Lampir di Indosiar, sejarah singkong, teh dan apel pasti sirna dalam visual sensual, pesona desah-senyum, belahan dada, dan gading paha Lasmini. Ciiaaattt.....