Tampilkan postingan dengan label film/sinetron. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film/sinetron. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2010

Jadikan Aku Wanita " Simpanan"


Sutradara handal Hanny R. Saputra datang lagi. Setelah dinilai sangat positif menghasilkan film Virgin (2004), Mirror (2005), Heart (2006), Love is Cinta (2006), dan The Real Pocong (2009), salah satu mantan anak didik Garin Nugroho bersama Riri Riza, John De Rantau, dan Arya Kusumadewa itu menyajikan karya teranyarnya berjudul "Ssst.. Jadikan Aku Simpanan."
Sepintas lalu judul film yang diproduksi PT. Virgo Putra Film itu sangat kacangan, untuk tidak mengatakan sampah. Namun, setelah purna kita mengapresiasinya, film yang beranjak dari skenario pintar Cassandra Massardi itu sangat sarat pesan. Ihwal tentang bagaimana sepatutnya harga diri sebagai seorang perempuan (kota) seharusnya di letakkan.
Dengan tidak menjual murah harga dirinya, demi hanya sekedar gelimang harta, untuk dijadikan perempuan, pacar atau simpanan seorang laki-laki mapan, yang kebingungan bagaimana seharusnya membelanjakan kelebihan rejeki. Selebihnya, film yang dibintangi Julia Perez, Ayu Azhari, Zidni Adam, Melody Septania, dan Diaz Theo mengalirkan problematikanya dengan komedi drama yang lumayan mengundang tawa.
Tidak sempurna betul tentu saja, namun ia bisa dikatakan berhasil  menggambarkan bagaimana maraknya, pilihan anak perempuan yang hidup dan tinggal di kota, menempuh jalan pintas menjadi perempuan simpanan, atas alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Dan Hanny, yang filmnya berjudul Sepanjang Jalan Kenangan pernah dinobatkan sebagai Film Terbaik pada Festival Sinetron Indonesia (1997), menyoroti hal itu dengan cukup mengena.
Sosok Pamela (Acha Septriasa) yang dicitrakan mewakili sisi psikologis anak kota pada umumnya, yang emoh bekerja keras apalagi prihatin menjalani hidup. Kecuali mencari jalan pintas untuk memenuhi nafsu belanja dan kemewahan duniawinya, dihadirkan menjadi magnet utama cerita.
Yang pada akhirnya mengikat, dan menyatukannya pada sosok Tisya La Fontaine (Julia Perez), wanita simpanan yang paling sohor yang konon ada di Indonesia. Lewat keberadaan Miss Tisya inilah, Pemela, sebagai sosok-sosok pemuda putus asa dalam film Quickie Express yang memutuskan jadi gigolo, ia akhirnya menetapkan diri menjadi calon perempuan simpanan.
Kelak, seorang perempuan simpanan dapat dikatakan sukses jika ia sudah berhasil mencapai level Mekarsari. Yaitu sosok istri simpanan paling pertama dan utama, yang dalam sejarah istri simpanan di Indonesia. Mekarsari diceritakan bisa menggeser keberadaan istri pertama dari laki-laki yang ''memeliharanya''. Hingga akhirnya mewarisi semua rumah, perusahaan, deposito dan berbagai barang berharga milik laki-laki yang telah mengangkatnya menjadi istri utama, dan satu-satunya.
Namun semudah itukah, Pemela yang baru lulus kuliah, dan masih menyisakan sedikit moral itu malih rupa menjadi perempuan simpanan yang didambakannya? Meski pintu ke arah itu sudah terbuka lebar, dan kekayaan dalam arti yang sebenarnya berada di depan mata.
Setelah melalui berbagai pergulatan, serta dengan bantuan keberadaan temannya Gino (Adam), akhirnya, sebagaimana klise film ber-ending hepi, Pamela memenangkan pilihan emosi kebaikan. Pilihan bijak itu, sejatinya juga didukung diam-diam oleh Miss Tisya dan Nining (Ayu Azhari), yang diceritakan juga sebagai mantan istri simpanan tersukses kedua yang pernah ada.
Sisanya, apa yang digambarkan dalam film "Ssst... Jadikan Aku Simpanan" memeragakan bagaimana praktek dan latihan memberikan kepuasan kepada ''klien'', digambarkan dengan komikal dan cenderung slapstick.

Jumat, 12 Juni 2009

Perempuan dan Emosi Diri

Tangisan selalu dimulai dari perempuan. Setidaknya, begitulah yang acap kita lihat di layar televisi. Di acara “Masihkah Kau Mencintaiku???” yang tayang setiap Rabu malam di RCTI misalnya, 15 menit terakhir pasti diwarnai air mata. Bahkan, tangisan penonton perempuan itu seakan menjadi menu, karena ditampilkan secara close-up, dari satu wajah ke wajah penonton yang lain, mulai gerakan menyusut air mata, menutupkan sapu tangan ke wajah, sampai tarikan napas berat menahan sedan.
Tangisan penonton itu sekilas terlihat wajar. Maklum, di 15 menit terakhir, Helmi dan Dian Nitami memang mengondisikan acara  untuk masuk dalam suasana haru melalui peluk dan isakan; narasumber yang bermaafan. Penonton terbawa, air mata tersita. Namun, tangisan penonton perempuan itu juga tumpah untuk acara yang tak dikondisikan berharu-haruan. Di “D-Show” TransTV  Senin (4/5) misalnya, acara itu penuh tawa. Julia Perez membuat Desi Ratnasari tergelak, meski dia bercerita tentang ibunya yang menolak Gaston Castanyo. Dialog ibu-anak itu menyegarkan, seperti percakapan mereka di dapur rumah, tanpa basa-basi, apa adanya. Tapi, tawa penonton itu secara cepat berubah jadi tangisan ketika narasumber yang lain, Siska, mengungkapkan juga penolakan ibunya untuk asmara dia dan suaminya. Perpindahan tangis ke tawa ini terasa menakjubkan. Betapa gampang penonton perempuan merasa, terlena….
Bahkan, tangisan semacam itu juga terjadi di acara musik.
Okky Lukman yang berhasil membawa hadiah Rp 100 juta dalam acara “Missing Lyrics” Trans TV, juga memancing tangisan penonton. Okky, memeluk ibunya, jejingkrakan tertawa-tawa. Di sekitar panggung, beberapa menonton menyusut air mata. Ajaib. Di final “Dream Girl” Global TV (13/5) yang mempertemukan trio Topodade dan 3G, penonton bahkan terisak nyaris sepanjang acara. Padahal, di panggung tak ada pertunjukan keharuan ala “Indonesian Idol”, “Idola Cilik”, atau “AFI”. Topodade hanya bernyanyi, sebaik-baiknya. Bukan lagu sedih, terutama ketika bersama Idol Divo mereka menyanyikan “Hitam” milik Andra & The Backbone. Dan penonton, juga Sita RSD yang menjadi juri, tak hanya memberi tepukan, tapi juga tangisan.
Haru. Sesak. Isak.
Air mata.
Bagaimana bisa bertandang?

Kecairan Identitas
Ya. Dari mana datangnya air mata? Mengingat, bahkan acara sejenis “Masihkah Kau Mencintaiku???” saja, menyisakan lobang logika, sehingga amat terlihat yang terjadi di panggung adalah semata rekayasa. Kesedihan di pentas itu, seharusnya, tak akan memancing tangis. Apalagi nyanyian Topodade. Tapi, kritikus Macherey punya jawaban. Dalam bukunya, A Theory of Literary Production, dia mengatakan setiap pembaca, juga penonton, selalu berada di antara representasi dan figurasi. Representasi adalah tujuan yang ingin disampaikan, subjek narasi, niatan. Sedangkan figurasi merupakan pembubuhan di dalam narasi, yang kadang hadir melalui efek pembayangan. Dalam tindak figurasi, pembaca atau penonton melakukan produksi teks atau cerita sendiri. Dengan kata lain, terjadi “pembentukan” teks atau cerita baru di benak penonton yang bisa jadi berbeda dari yang tersaji di atas panggung. Bahasa gampangnya, penonton melakukan pengkhayalan kembali.
Pendapat Macherey di atas didukung oleh Thomas Elsaesser. Dalam Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Art in the Digital Age, dia menulis bahwa televisi yang visual sangat mendorong efek figural, menghadirkan dunia tiruan, dunia bayangan. Penonton pun tumbuh dan hidup dalam dunia rekaan. Jadi, jika pun ada tangis, air mata itu tumpah bukan karena cerita yang tersaji, melainkan lebih karena proses keterlibatan dalam sebuah “kesedihan yang dibayangkan, direka-ulang”.
Tapi mengapa penonton perempuan? Neil Postman punya jawaban. Sebagaimana yang juga dikutip Wilson Sitorus, dalam Amusing Ourselves to Death, Postman mengatakan televisi merupakan dunia kapitalis laki-laki yang tak ramah kepada masyarakat lain di luar itu. Dan sebagai “wakil” lelaki, televisi sangat digdaya menghadirkan dan memancing figur/cerita khayalan. Penonton perempuan adalah mangsa, korban. Meski pandangan Postman ini mulai diragukan para feminis, terutama oleh Gamman dan Marshment melalui The Female Gaze: Women as Viewrs of Popular Culture, tapi di dunia ketiga, televisi memang masih menjadi wakil pria.
Di Indonesia, pendapat Postman didukung data AGB Nielsen, bahwa penikmat terbesar televisi adalah perempuan. Dan efek figurasi itu makin kuat karena penonton perempuan tadi berasal dari strata sosial dan ekonomi D-E. Artinya, pendidikan penonton perempuan ini sebagian besar maksimal SMP, dengan pengeluaran bulanan tak lebih dari satu juta rupiah, dengan ketidakmampuan memiliki barang mewah seperti kulkas dan penyejuk ruangan. Mereka adalah ibu-ibu dan gadis.
Namun, lebih dari faktor pendidikan dan ekonomi, pembayangan cerita dan keterlibatan penonton tercipta karena proses pembentukan identitas feminin dalam model cerita sinematik. Mengikuti argumen Stacey dalam Star Gazing: Hollywood and Female Spectatorship, figurasi terjadi karena tercipta kecairan sementara (temporary fluidity) di antara identitas penonton dan aktor. Kecairan dan “pertukaran” identitas itu biasanya dipicu faktor kesamaan keinginan, nasib, dan hasrat-hasrat yang secara potensial ingin mereka penuhi. Maka, apa yang terjadi di atas panggung, secara sementara, tercipta juga pada penonton. Kesedihan, tangis, meskipun itu rekayasa pemanggungan, bagi penonton, bukan  hanya sebuah tayangan melainkan menjadi internalisasi diri, dirasakan, dialami….
Penonton perempuan melompat ke dalam cerita, memainkan perannya. Maka wajar, jika kemudian mereka bersimbah air mata.



Kamis, 29 Mei 2008

Tawa untuk Logika Janda

Susah sungguh bergelar janda, jadi rebutan dan caci-maki para tetangga

"Takut... takut... takut... Sama istri sendiri kok malah takuuuutttt.... Ciut.. ciut... ciut... Sama istri sendiri nyalinya ciuuuuuttttt...." Anda pasti akrab dengan potongan lagu di atas. Ya, itulah lagu yang menjadi pembuka tayangan sitkom "Suami-suami Takut Istri" setiap sore di TransTV. Dari lagu tersebut sudah jelas arah cerita komedi itu, tentang suami yang tak berdaya di depan istri.

Sitkom yang diproduseri Anjasmara dan disutradarai Sofyan de Surza itu memang populer. Selain cukup bagus dari sisi cerita, kekuatan karakter tokoh menjadi daya tarik utama, terutama karena bumbu kontradiksi di dalamnya. Tigor (Yanda Djaitov) yang berbadan binaraga misalnya, justru takluk sama istrinya, Welas (Asri Pramawati), yang lembut dan kurus. Lucu, apalagi jika mengaitkan kesukuan mereka, Tigor yang Batak dan Welas yang Jawa. Atau keluarga satu suku, Faisal (Ramdan Setia) dan Deswita (Melvy Noviza). Matrenalisme suku Padang diwujudkan secara ekstrim dalam ketaklukan suami dalam hal apa pun. Sesuatu yang hiperbolis, sebenarnya. Tapi, tanpa yang hiperbolis, komedi tentu akan kehilangan suara.

Konflik dalam sitkom ini tergolong biasa, khas permasalahan rumah tangga. Namun karena faktor ketertundukan suami, penyelesaian konflik tadi acap mengundang tawa. Apalagi, dikontraskan dengan kehadiran Dadang (Epy Kusnandar), satpam yang beristri tiga, dan satu-satunya lelaki yang tak takluk pada istrinya. Tak heran kalau akhirnya terjadi "ikatan" persamaan nasib di antara para suami itu. Pak RT (Otis Pamutih), Faisal, Tigor, dan Karyo (Irvan Penyok), jadi terbiasa ngudarasa, curhat, atau berbagi taktik mengelabui istri, meski selalu gagal. Namun, selain karena takut pada istri, ikatan sesama suami ini juga terjalin karena alasan yang sama, ketertarikan pada seorang janda. Pretty (Desy Novitasari) namanya. Bahkan, konflik akibat kejandaan Pretty nyaris menjadi menu utama sitkom ini.


Janda Omnivora

Pretty memang cantik. Kakinya panjang, dengan dada yang padat, dan acap berbusana terbuka, menantang. Bibirnya tipis, dan kalau bicara, mendesis-desis. Matanya pun bagus, terutama kalau berkedip-kedip ketika bicara. Kehadirannya menjadi magnit di komplek itu, bukan saja membuat para suami jadi punya kesamaan idola, melainkan juga menjadikan para istri punya musuh bersama. Pretty yang cantik, dan terutama janda, membuat para istri memandang dalam syak-wasangka. Karena tampaknya, sebagai kompensasi ketakutan pada istri, para suami jadi memiliki keberanian untuk menggoda sang janda.

Pretty bukan tidak menyadari ketertarikan para suami pada tubuhnya, dan kemarahan para istri akan kehadirannya. Tapi, bukannya menjaga diri, Pretty justru berlaku "jinak-jinak merpati". Akibatnya, para suami acap tertangkap basah tengah menggodanya, membantunya, atau terkunci di dalam rumahnya. Hanya Dadang yang tak begitu "memandang" Pretty. Satpam ini cuma bisa "goyang" oleh uang.

Sitkom ini memang melakukan mitos penguatan pada stigma janda. Pretty tampil dalam imaji janda yang memang bertugas menggoda. Dia memberi angin pada harapan para suami lewat lirikan, ajakan jari telunjuk, senyum, dan busana. Pretty mempersepsikan sebagai janda yang mau dan "bisa" digoda. Bahkan, ayah Tigor, Togar (Dorman Borisman) yang berkunjung, langsung melihat sinyal "kebisaan" Pretty. Dia berusaha mencuri kesempatan, namun ternyata, sama seperti anaknya, Batak tua ini pun takut pada istrinya. Hahaha...

Karena hadir dalam streotif "bisa" digoda, para istri pun memosisikan Pretty dalam stigma janda pada umumnya. Bu RT (Aty Fathiyah) terutama, sangat percaya bahwa Pretty selalu menginginkan suaminya. Meski hal itu dibantah anaknya, Sarmilila (Marissa), "Nyak, kenape sih selalu nyalahin Tante Pretty? Nggak mungkin juga Tante Pretty mau sama Babe." Tapi, bagi Bu RT, yang mewakili stigma umum itu, janda adalah omnivora, pemakan segala, tak punya kelas selera. Pria apa pun, jelek atau binaraga, lembut atau tak bekerja, akan dimamahnya.

"Suami-suami Takut Istri" tidak berusaha melakukan redefenisi pada stigma janda itu. Dalam satu seri, Pretty bahkan digambarkan begitu hausnya pada lelaki, dan berusaha menjebak Garry (Ady Irwandi), satu-satunya lajang di perumahan itu. Namun Garry menolak. Ia pun distigmakan sebagai lelaki yang lugu, yang tanpa pretensi apa pun, senang membantu. Kehadiran Garry sebagai lajang polos kian menegaskan keomnivoraan Pretty. Belum lagi posisi Dadang sebagai satpam, yang lebih banyak menjadi mata para istri, dengan imbalan uang, untuk mengawasi Pretty. Dadang hadir lebih sebagai personifikasi negara, menjadi pengawas akan status warganya.


Logika Janda

Sitkom "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin stigmatisasi janda yang masih berlangsung dan diterima oleh warga. Keberterimaan itu dapat dilihat dari kehadiran Pretty yang tidak mendapat resistensi dari penonton. Artinya, sosok Pretty dilihat dan dinikmati bukan sebagai karakter yang terberi melainkan watak asali. Konflik dan kecemburuan karena Pretty dinikmati sebagai kewajaran dan bukan pengada-adaan. Akibatnya, jalinan cerita menjadi benar dalam "logika" janda.

Janda, "perempuan yang pernah menikmati seks", dipersepsikan sebagai ancaman rumah tangga. Karena pernah menikmati seks, janda dipercayai akan mencari lagi kenikmatan itu dengan cara apa pun. Logika inilah yang membuat, jika pun terjadi hubungan seks antara seorang lelaki dan janda, perempuan itu menjadi "tersangka" dan lelaki sebagai "korban". Anggapan yang sangat kejam, yang celakanya, justru mendapat afirmasi dari negara.

Negara "mengakui" stigmatisasi janda sebagai "ancaman" pada moralitas dan rumah tangga. Maka perempuan yang "pernah menikmati seks secara sah" itu perlu terus dilabeli. Labelisasi itu dilakukan negara lewat penyebutan di dalam KTP. Dengan pelabelan itu, seorang wanita didudukkan dalam sebuah akuarium besar, sehinnga khalayak dapat mengetahui statusnya. Dengan pelabelan itu, negara mengatakan bahwa "perempuan ini pernah menikmati seks secara resmi", dan warga harus hati-hati padanya. Label status yang menjadi "penjara" bagi si perempuan, agar dia terus tersadarkan tentang statusnya, dan menjaga sikap moralnya di depan warga.

Ironinya, pelabelan itu hanya menjerat perempuan yang pernah menikmati seks secara resmi alias menikah. Sedangkan perempuan yang pernah menikmati seks --tanpa harus menikah-- tidak masuk dalam labelisasi ini. Artinya, bui labelisasi itu justru diberikan pada perempuan yang mengikuti moralitas umum --mereka pernah menikah-- dan bukan mereka yang melawan moralitas umum --ngeseks tanpa menikah. Tanpa sadar, negara dan warga justru mengawasi perempuan yang "mengakui dan mengikuti" moralitas umum. Aneh kan?

Mengapa negara dan warga menghidupi terus stigma janda itu? Sebabnya satu, seks masih masuk ke wilayah tabu. Sebagai sesuatu yang tabu, seks hadir dan meluas secara tersembunyi, dan hidup dalam imajinasi banyak orang. Dan janda, --perempuan yang pernah menikmati seks-- adalah sebuah "wilayah kosong" yang memantik imajinasi. "Wilayah yang tak lagi tergarap" itu memancing imajinasi banyak perempuan dan lelaki, apalagi jika dia secantik dan seseksi Pretty. Karena itu, "Suami-suami Takut Istri" adalah cermin kebobrokan moral dan kesesatan pikir masyarakat ini. Kita menikmati, menertawai. Menggelikan sekali!


Sabtu, 24 November 2007

Duta Anti Narkoba

Keterlaluan negeri kita ini. Orang yang jelas memakai narkoba, eh jadi duta dan ikon antinarkoba yang duduk semeja dengan Kapolri dan Ketua BNN.  Ingat 2 Februari 2006 ?.  Ya, saat itu Roy Marten mendekam di penjara karena sabu - sabu. Aktingnya, dia melakukan tobat, minta maaf kepada semuanya seakan secara jantan menjalani semuanya sebagai konsekuensi pilihan hidup.

Publik pun iba, mersa kasihan, berempati untuk usaha Roy meninggalkan narkoba dan 1 Oktober 2006 dia bebas. Publik dengan baik dan tangan terbuka menerima kembali. Roy kembali main film bahkan jadi jubir Persatuan Napi se-Indonesia. Kegiatan selanjutnya dia menghadiri peringatan Hari Narkoba Internasional. Bicara tentang bahaya narkoba di depan 2000 prajurit TNI AD di Jakarta.

10 November 2007, dia memberi testimoni antinarkoba yang dihadiri Kapolri di Surabaya. Artinya, masyarakat sudah menerima Roy ke jalan yang benar. Menjadikannya sebagai panutan agar diri dan keluarganya tak terjerat narkoba. Pendek kata, Roy Marten adalah Ikon AntiNarkoba. Tapi 13 November 2007 dia di grebek polisi ketika sedanhg pesta shabu - shabu di hotel Novotel Surabaya.

Apalagi yang kini bisa di jadikan panutan dari seorang Roy Marten. Pembelaan keluarganya bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan hingga masih boleh mengkonsumsi shabu - shabu dalam jumlah terbatas atas pengawasan dokter. Sebagai seorang awam, saya nggak mau tahu alasan membela itu. Yang jelas, Roy tertangkap memakai shabu - shabu. Titik.

Sebagai ikon antinarkoba, harusnya orang yang benar - benar bersih dari narkoba ( Ade Ray, Chris Jon ). Apakah tidak ada lagi orang yang benar - benar besrih dari narkoba sehingga orang seperti Roy Marten masih di pakai ikon anti narkoba. Lebih - lebih kabarnya shabu - shabu di peroleh dari bandar yang masih menghuni LP Cipinang.

Kalau sudah demikian, mau dibawa kemana generasi muda kita???. Orang tua cuma bisa ngomong, tanpa memberi contoh yang baik. Hanya bisa melarang tapi mereka sendiri memakai. Panggung sandiwara kembali dimainkan Roy. Dampak terhadap generasi muda ???

Ayo generasi muda, penerus bangsa, tak perlu banyak bicara dan mencari panutan lagi. Kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga untuk " SAY NO TO DRUGS ".  Jangan tunggu besok. Sekarang saatnya. Sekarang juga.

Kamis, 15 November 2007

Salahkah Mereka??????

Industri metode perkembangan anak membuat orangtua tak memiliki kesabaran membiarkan anaknya tumbuh secara alamiah.
"Fahmi, jujur ya, sebenarnya Fahmi mau pilih piala atau harimau?" tanya Marissa Haque.

"Sebenarnya sih, Fahmi maunya pilih piala, Bunda. Tapi kata kakak pembina harus pilih harimau. Kalau tidak pilih harimau, katanya Oom kameramen akan kreek!" jelas Fahmi sambil menebaskan tangannya ke leher. Barangkali maksudnya disembelih.

Marissa Haque tertawa. Penonton juga, bergelak. "Inilah anak-anak ya Ibu-Ibu, jujur dan lugu sekali...." Marissa menggelengkan kepalanya.

Saya tidak tertawa melihat kejujuran Fahmi dalam acara "Keluarga Dacil" yang tayang di Lativi, Jumat malam (9/11) itu. Kejujuran Fahmi di atas justru menunjukkan satu ironi bahwa apa yang dia tampilkan dalam tausyiah sebelumnya bukanlah suara hatinya, melainkan "pesanan" dari Kakak Pembina. Sikap moral yang dia sampaikan adalah pilihan yang sebenarnya tidak dia mengerti tapi harus dia katakan. Di pentas Pildacil itu, Fahmi belum memanggungkan dirinya.

Peserta lain, Aufa, menunjukkan ironi yang sama malam itu. Ketika Neno Warisman bertanya, "Buku apa yang harus dipelajari paling utama di muka bumi ini?", dengan enteng dia menjawab, "Buku-buku tentang agama Islam, Bunda."
Neno Warisman terlengak, wajahnya tampak tidak puas dengan jawaban Aufa. "Iya, tapi kalau antara al-Quran dan buku-buku agama Islam, mana yang lebih penting, Aufa?"

Aufa berpikir sebentar. "Mungkin harus kedua-duanya ya, Bunda."

Plass! Senyum di bibir Neno hilang sesaat. Setelah membuang napas, dia pun berkata, "Iya, tapi banyak orang yang salah belajar tentang Islam karena tidak mendahulukan al-Quran, Aufa. Mereka jadi sesat. Jadi al-Quran itu harus yang utama. Aufa mengerti kan?"

Aufa mengangguk. Neno kembali bersandar ke kursi.

Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia yang tampil malam itu, seperti kata Marissa, adalah anak-anak yang masih lugu dan jujur. Tapi lihatlah, bagaimana orang dewasa, para Kakak Pembina mereka, juga para Bunda yang menjadi juri, menganggap "aneh" kejujuran dan keluguan mereka, dan mencoba menarik mereka ke alam pikir orang dewasa.


Sekadar Hapalan

Dari jawaban Fahmi dan Aufa, kita dapat menduga bahwa tausyiah yang mereka sampaikan adalah hasil hapalan semata. Karena hasil hapalan, apa yang mereka sampaikan bukan lahir dari hasil penalaran, proses mengerti dan memahami. Sehingga kenapa harus memilih harimau dan mengapa harus mengutamakan membaca al-Quran, Fahmi dan Aufa tidak mengerti. Bagi mereka itulah yang harus disampaikan untuk dapat merebut simpati penonton. Proses yang tanpa penalaran itu membuat mereka menjawab berbeda dari tausyiah ketika ditanyai oleh para Bunda. Pilihan pribadi berdasarkan "nalar kanak" pun muncul, yang menimbulkan gelak tawa, sekaligus kerisauan, para Bunda.

Dari penampilan Fahmi, Aufa, Ela, dan Kenia, tampak sekali betapa berat mereka mengingat seluruh ajaran "Kakak Pembina". Kesetiaan pada hapalan ini membuat Ela tergeragap, dan Fahmi berberapa kali menjedai tausyiahnya, karena lupa. Pemanggungan itu, dalam arti yang sebenarnya, menjadi siksaan bagi mereka. Anak-anak itu cuma mengerti bahwa kesempurnaan penampilan mereka adalah kesetiaan pada hapalan. Tak ada improvisasi, negosiasi, apalagi imajinasi dari keseluruhan tausyiah yang harus disampaikan. Panggung "Keluarga Dacil" itu, senyatanya bukanlah arena kegembiraan, "ladang" permainan, melainkan sebuah tugas, kancah pertarungan siapa yang paling kuat ingatannya. Padahal, metode hapalan semacam itulah yang justru kelak akan merampas kekuatan kognisi anak-anak ini.

Psikolog perkembangan anak, Kathi Hirsh-Pasek dalam buku Einstein Never Used Flash Cards: How Our Children Really Learn - And Why They Need to Play More and Memorize Less menunjukkan "bahaya" jika anak-anak dipaksa menghapal. "Yang diperlukan bagi perkembangan kognisi anak-anak adalah kesempatan yang luas untuk bermain, bergembira, dan bukan menghapal," katanya. "Bermain akan membangun keahlian intelektual yang kaya, luwes, dan fleksibel, tempat di mana akan tumbuh kemampuan menyelesaikan masalah," tambahnya. "Bermain merupakan unsur penting dalam kemampuan berpikir ilmiah yang produktif," kata si jenius Einstein. Dan, Einstein pun ternyata, tak pernah menghapal.

Lalu apa unsur bermain? Pertama, bermain harus menyenangkan dan bisa dinikmati. Kedua, bermain tidak punya tujuan ekstrinsik. Bermain juga harus spontan, tidak memiliki aturan dan alur, melibatkan imajinasi dan ketakterduggan dalam proses bermain. Dari beberapa unsur itu, pementasan "Keluarga Dacil" dapatlah dilihat tak memenuhi syarat sebagai arena bermain.


Anak sebagai Proyek

Apa yang tampil dalam "Keluarga Dacil" atau "AFI Junior" sebenarnya adalah wujud dari progresivitas orang tua yang ingin "memamerkan anaknya". Progresivitas ini membuat anak-anak mengalami masa kanak denan tergesa-gesa. Tidak ada lagi kesabaran dari orangtua untuk melihat anaknya tumbuh dengan alamiah, belajar sendiri, sebagaimana pertumbuhan bayi sejak ribuan tahun lalu. Industri metode mendidik anak telah mendorong orangtua untuk mendapatkan anak dengan kecerdasan sempurna dan lebih dari anak yang lain. Setiap blue print bagaimana mendidik anak pun dipelajari, dipraktekkan, dengan kegembiraan dan kecemasan yang sama. Efek Mozart, Baby Shakespeare, sampai emotional intelligence untuk bayi, dan puluhan metode lain diikuti, tanpa menyadari semua itu adalah "ilusi" yang dibangun dunia industri. Masa kanak-kanak pun hilang karena program perlombaan kecerdasan dan kesuksesan ini. Anak-anak akhirnya tidak punya dunia sendiri, proyeksi dari harapan dan keinginan orangtua.

Lihatlah keluarga Aufa yang meminta dukungan masyarakat Solok, dan sibuk mendatangi media. Apa sesungguhnya arti popularitas dan kemenangan itu bagi dirinya pribadi? Atau Fahmi, yang mengucapkan "r" pun belum bisa, tentu dia tak mengerti rasa bangga tampil di teve lebih dari yang dialami orangtuanya. Anak-anak ini pun pasti belum tahu bagaimana menggunakan hadiah jika menang, yakni berupa ponsel, simcard, dan voucer Rp 500 ribu. Hadiah yang sungguh tidak ada kaitannya dengan kekanakan mereka. Anak-anak itu pun pasti tak mengerti apa yang dikatakan para Bunda --Marissa, Neno, dan Khofiffah-- yang selalu mengaitkan isi tausyiah mereka dengan pembalakan liar, kekalahan pilkada, korupsi, dan kecurangan para politisi.

Dari situ, kita dapat melihat, sesungguhnya pentas "Keluarga Dacil" dan aneka lomba sejenis itu, adalah panggung para orangtua untuk pamer diri atas pencapaian mereka. Anak-anak itu adalah buktinya. Dalam kasus ini, Kafka pun jadi benar ketika mengatakan, "Memiliki dan mendidik anak dalam dunia sekarang adalah pekerjaan paling mustahil." Mustahil karena anak-anak tidak dididik sebagai anak-anak. Mustahil karena anak-anak adalah pihak yang selalu dipaksa mendengar, diajari menghapal. Mereka adalah kaset yang memutar suara orangtua....


Senin, 01 Oktober 2007

Bangkit dari Kubur

CERITA tentang mayit yang bangkit dari kubur, yang kini mendominasi sinetron "religius", pernah juga merajai tema film Indonesia tahun 1980-an. Namun, bangkitnya mayit itu ternyata membawa "pesan" yang sangat berbeda.

Di tengah hujan doa pengusiran, Anita (Suzanna) masih sempat mengucapkan ancaman. "Dengar pesanku ini! Barangsiapa yang merampok, memperkosa, dan melanggar hukum, ingat, aku pasti akan datang untuk mencabut nyawanya..." Anita lalu memandang suaminya, Sandy (George Rudy), menitipkan pesan untuk anak-anaknya, lalu pergi, kembali ke alam-Nya.

Itu adalah petikan adegan akhir dari film Telaga Angker, yang entah telah berapa kali tayang ulang di teve. Penayangan itu tampaknya ingin mengiringi kemarakan sinetron "religius" yang berceritakan tentang kebangkitan mayit. Dan, menonton film-film produksi tahun 1980-an ini, nyaris seperti melihat tayangan sinetron yang saban malam "berkejaran" di tiap stasiun. Ya, secara teknik visual, tampak memang tak ada kontras jelas penggambaran mayit yang bangkit di film tahun 1980-an, dengan sinetron tahun 2005-an. Padahal, secara teknologi jelas telah terjadi lompatan besar, yang tampaknya memang tidak diimbangi dengan kemajuan kreativitas pencipta sinetron. Dan itu jugalah yang membuat cerita dan pengadeganan nyaris sama. Mayit yang bangkit dengan kostum dan make-up yang sama, kiai yang selain jago berdoa juga ahli silat, sampai ending yang sebangun. Kalau pun ada beda, cuma pada sosok kiai dan motif "pembangkitan" mayit.


Aparatus Kubur

Dalam film-film Suzanna, sosok kiai selalu mampu berdoa lantang dan berlafal benar. Di sinetron sekarang, kiai-kiai hanya berkemak-kemik, dan jika pun ada pelafalan, terdengar seperti orang yang baru melek membaca al-Quran. Barangkali karena sinetron kejar tayang, pemeran sosok kiai pun mungkin diambil sembarangan, cukup dengan modal selempangan sorban.

Namun, beda paling "serius" tampak dari motif bangkitnya para mayit. Seperti petikan pesan di atas, yang selalu ada nyaris dalam tiap film Suzanna, kebangkitan mayit selalu untuk membalaskan dendam. Mayit bangkit untuk mengejar para pembunuh, perampok, dan yang utama, pemerkosa. Si mayit biasanya dapat berubah bentuk seperti manusia normal, dan menggoda-jebak korbannya. Dan sebelum "penghakiman", sosok si mayit kembali ke bentuk yang menyeramkan, dengan lengking dan kekehan yang khas Suzanna.

Proses penghukuman itu biasanya selalu diselingi ucapan, "Inilah hukuman untuk pemerkosa..." atau, "Rasakan balasanku hai perampok..." dan meninggalkan pesan kepada para saksi dengan ucapan semacam, "Ini agar menjadi peringatan bagi para pengganggu rumah tangga orang, pejabat yang koruptor, pemerkosa...."

Dari film-film misteri tahun 1980-an itu dapat dilihat bahwa motif bangkitnya mayat adalah untuk menghukum orang-orang yang masih hidup, musuh yang membuat kematian atau kesengsaraan keluarga si mayit. Bangkitnya mayit itu seakan menjadi "aparatus" kubur, utusan Tuhan, untuk membalas dendam dan menegakkan hukum. Dengan pesan-pesan yang dibawa si mayit, aparatus kubur ini justru mempropagandakan kebaikan. Mayit hanya tampak menyeramkan bagi si terdakwa, dan bagi yang lain, hadir dalam proses menggelikan, hanya menggoda.

Dalam sinetron, bangkitnya mayit justru berkait dengan siksa kubur. Si mayit bangkit atau "dibangkitkan" secara visual --ditunjukkan siksa di dalam kubur-- sebagai penunjukan atas hukuman atas dosa yang dia lakukan selama hidup di dunia. Dalam beberapa cerita di Taubat, Rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, Misteri Ilahi, dan insyaf, tampak bagaimana siksa kubur yang diderita si mayat, yang menimbulkan kegegeran bagi lingkungan sekitarnya. Biasanya siksa menimpa pada tokoh yang memakai pesugihan, menyembah "berhala" dan berdukun, bersumpah palsu, korupsi, memakai sihir, teluh, dan susuk, bekerja sebagai pelacur, berjudi dan mabuk-mabukan, sampai yang kikir membelanjakan harta di jalan Allah. Si mayit yang "dibangkitkan" tidak perlu mengotbahi orang sekitarnya dan atau penonton, karena siksa atas dirinya telah menjadi pesan yang lebih nyata. Namun, keberbedaan "cara bangkit" mayit ini juga menunjukkan perubahan cara pandang sineis atas realitas.


Apatisme Hukum

Pesan yang dibawa si mayit di dalam film, di satu sisi dapat dilihat sebagai keterbelengguan sinema untuk membawa pesan moral, yang tampaknya merupakan pengejawantahan dari moral pancasila. Si mayit terkadang tampak menggelikan --tentu ini dilihat dari kacamata kekinian-- ketika mengotbahi para petugas yang korup dengan membawa-bawa pancasila dan atau atas nama kepentingan negara dan orang banyak. "Pesan negara" ini bahkan sangat jelas karena pengucapannya pun nyaris seperti hapalan. Atau, barangkali pengucapan gaya penghapalan ini memang menjadi "tanda" agar penonton tahu betapa terbelenggunya film itu.

Di sisi lain, bangkitnya mayit justru meruntuhkan pesan yang dia bawa. Mayit yang bangkit dan membalas dendam menunjukkan semacam ketidakpercayaan si korban pada kerja aparat. Si mayitlah yang selalu berhasil menemukan pembunuh, pemerkosa atau koruptor, dan jika tidak menghukum sendiri, dia akan menghubungi polisi, seperti di film Misteri Rumah Tua. Di film Telaga Angker dan film Suzanna yang lain, balas dendam itu memang terjadi, meski ada beberapa penjahat yang terpaksa diserahkan pada massa karena penuntasan dendam itu dihakimi kiai. Dari sini saja tampak bahwa ketakpercayaan pada aparat itu sudah demikian dalam, sehingga jika pun tak terjadi pembalasan dendam, hanya sosok kiai yang masih dapat dipercaya.

Dlam sinetron, "pembangkitan" mayit justru lebih menunjukkan --sebagaimana juga pendapat Garin Nugroho-- ketakpercayaan pada hukum. Jadi, ketakpercayaan pada hukum yang adillah yang membuat kepasrahan diletakkan pada hukum Tuhan. Apatisme pada hukum negara membuat adagium "Biar Allah yang akan membalas semua perbuatannya" mendapat titik pijak. Ketidakampuhan hukum negara untuk membuat efek jera juga yang membuat hukum Tuhan divisualisasikan dengan cara demikian mengerikan, kasar, dan di beberapa visual, justru tampak naif. Keapatisan pada hukum negara juga yang membuat Tuhan diharapkan turun tangan bukan saja sebagai sipengadil, tapi juga sekaligus sebagai Allah yang Maha Kejam dan Maha Penghukum. Dan dasar itu juga yang membuat bangun-rancang sinetron "religius" meletakkan ketakwaan tercipta dalam bungkus ketakutan atas hukuman, dan bukan karena, seperti lagu Chrisye dan Ahmad Dani, "Dia memang pantas disembah, Dia memang pantas di puja", meskipun surga dan neraka tak pernah ada.

Akhirnya, cara bangkit mayat di film dan sinetron tampaknya hanya ingin menunjukkan betapa rusaknya negara ini. Di masa Orba, film menunjukkan betapa tak percayanya masyarakat pada aparat, dan di masa tanpa orde ini, sinetron menunjukkan ketakpercayaan pada hukum. Dan untuk menghibur kesengsaraan kita sebagai anak bangsa, kita pun "memvisualisasikan" mayit semacam Suzanna, dan siksaan seperti di sinetron. Kita pun menontonnya dengan bergairah, karena tahu masih ada hukum, masih ada keadilan, bahkan terjadi setiap malam, meski cuma di televisi.

Jumat, 07 September 2007

Tukul Dengan Katroknya

Untung saja dinegara ini masih ada orang yang mau tertawa jika dihina. jika tidak, mungkin kesuksesan tidak mungkin bisa datang begitu saja dalam diri tukul arwana. ya, ketika melihat acara empat mata, saya seperti melihat kebodohan kita sebagai manusia. tapi bagaimanapun juga, fenomena tetap saja fenomena. hal ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. perlu sebuah kristalisasi kringat yang panjang. perlu perjuangan sampai titik darah penghabisan. hingga bisa menjadi cover boy seperti sekarang ini. katanya.

Saya masih ingat acara empat mata pertama kali. dulu belum sempat sukses seperti ini. pembahasannya pun masih menjurus pada hal hal 17 tahun keatas. sering kali bintang tamunya para wanita seksi, sering kali penyanyi dangdut yang waktu itu disuruh menunjukkan ciri khas goyangannya masing masing. goyang patah patah, goyang gergaji, goyang kayang, atau entah goyang apalagi. empat mata waktu itu hanya sebuah talkshow biasa. host bertanya dan bintang tamu menjawab. dan setelah penonton, pemirsa, atau bintang tamu tertawa jika dihina. maka acara ini melesat mendudukin rating yang tinggi. ini yang dimaksudkan dengan fenomena tersebut. jarang sekali ada acara talkshow seperti ini. bagi saya, ini yang namanya dagelan kere', atau guyonan ra'teges yang merupakan ciri khas dari para pelawak pelawak jawa. lihat saja contohnya seperti polo, gogon, timbul, basuki, marwoto, kirun, topan/lesus, atau anggota srimulat yang lainnya. tidak ada bedanya dengan seorang tukul arwana yang mempunyai ciri khas yang sama.

Kita melihat ketika Tora Sudiro melempar kacang kearah tukul, lalu dengan tiba tiba tukul meniru gaya seperti anjing dengan lidah terjulur dan sesekali dengan kaki terangkat nungging. kita juga melihat ketika tukul sering kali mengajak bintang tamu masuk kedalam lalu setelah keluar sambil membetulkan celananya. terlebih sering kita melihat tukul mengatai para penonton dengan ciri ciri khasnya, "wong ndeso." "katrok." "tak sobek sobek mulutmu." atau "betulin dulu celanamu... wajah kelihatan kota kok pikiran ndeso." saya bayangkan orang orang pelosok desa jika melihat acara ini, apa tidak sakit hati. tapi sering juga ketika tukul terhina atau menghina dirinya sendiri tentang bibirnya yang makin molor, atau sering kali dia berkata "lha saya ini keturunan nying nying." lalu saya bayangkan apa bapak ibunya tidak marah ketika dikatakan punya anak nying nying. tak sempat dia memikirkan hal tersebut lalu dia berkata "puas puas!!!"

ya, saya puas. !!! para pemirsa dan penonton pun juga puas. jam tanyang ditambah. seminggu 5 kali penanyangan dalam durasi 1,5 jam. honor tukulpun bertambah. iklan iklan datang dan antri bergiliran. rumah makan ikan bakar dibukanya, rumah orang tua dibangunnya hingga megah, rekaman album juga tak ketinggalan. ini aji mumpung. ini yang namanya keberuntungan. rejeki itu datang dengan sendirinya. tapi, tanpa usaha manusia tidak mungkin bisa meraihnya. manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu datang, manfaatkan masa sehatmu sebelum masa sakitmu datang, dan manfaatkan masa... iyaaa... untuk itu, iyaaa... iyaaa... iyaaa... iyaaa... iyaaa...

iya ini yang saya maksudkan. inilah cermin diri kita. potret kehidupan manusia yang sesungguhnya. apa adanya, sok tahu, keminter, ngakunya cover boy, ngakunya ini, ngakunya itu. sungguh benar benar seseorang yang polos. ciri khas wong ndeso. ini adalah icon. tukul adalah simbol dari penindasan. simbol dari bencana dan musibah. inilah fenomena kita yang kasar, norak, narsis, mesum juga munafik. bukankah ini penampakan kita sebagai manusia yang sesungguhnya. bukankah ini masyarakat kita yang sebenarnya.

sekalipun ngakunya peragawan, model, ataupun cover boy, yang namanya kutu kupret itu tetap saja kutu kupret. PUAS... PUAS...PUAS !!!???

Senin, 03 September 2007

Jilbab yang di sakiti

Dalam berbagai sinetron "berbau" hidayah, pemakai jilbab ditampilkan sebagai ibu kejahatan; melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan.
IBUMU kritis? Malah bagus daripada sakit terus! Ini kan tinggal menghitung hari aja!" Pak Lurah melirik ke kasur, mencibir. Tak terpancar iba sedikitpun dari wajahnya saat melihat istrinya terbaring lemah. Dia pun abai pada tangis Ima, anaknya, yang berharap segera membawa ibunya ke rumah sakit.

"Ibu tersiksa, Pak. Kasihan...."

"Biar tidak tersiksa? Gampang! Bacain aja Yasin. Mau panjang, pendek, terserah! Gampang kan? Ngapain ke rumah sakit segala, ngabisin duit! Paling juga mati. Huh!" Meludah, menggerutu, gontai dia ke luar kamar.

Itulah sepotong adegan dalam sinetron Pintu Hidayah: Lurah Penjudi, yang tayang di RCTI (10/8). Kisahnya sederhana, tentang seorang lurah yang gila judi sampai menelantarkan kebutuhan keluarganya. Pak Lurah (Hendra Cipta) bahkan mengizinkan pendirian rumah judi di desanya, dan menjadi pelanggan di sana. Nasihat ulama dia bantah. Sindiran warga dia sergah. Semua penentangnya pun menyerah.

Sinetron ini menarik perhatian saya bukan karena sumpah, ludah, dan makian yang bertebaran dalam tubuh cerita, melainkan sosok istri dan anak Pak Lurah. Keduanya berjilbab. Jadi, Pak Lurah yang demikian durjana itu ternyata memiliki istri dan anak yang sabar dan taqwa, yang selalu menasihati ayahnya, meski pasti mendapatkan sumpah dan sergah.

"Penghadiran" sosok berjilbab dalam sinetron di atas mengingatkan saya pada puluhan sinetron lain dengan tipikalitas yang sama, sosok durjana penuh dosa tapi memiliki keluarga takwa, yang disimbolkan dengan pengenaan jilbab. Sinetron Dukun Santet di TransTV (6/7) contohnya, bercerita tentang dukun yang suka berjudi, berzina, dan menyantet, dan selalu murka dengan ulama di desanya. Di dalam rumah hadir ibunya yang selalu menasihati, dan anaknya yang tak lalai mengajak bertobat. Ibu dan anak si dukun seksi (Vicky Burki) itu mengenakan jilbab.

Sinetron Preman Bejat di TransTV juga menempuh cara sama. Preman yang suka membunuh, merampok dan aneka kemaksiatan lainnya, ternyata memiliki istri berjilbab. Juga mertua, adik ipar, dan anehnya, orang tua yang juga berjilbab. Bahkan tipekalitas anak bejat dengan orangtua taat (dan ibu berjilbab) ini sangat sering hadir dalam cerita. Terbaru, sinetron "Kisah Suami Beristri Empat" di TransTV (19/8), menampilkan suami yang sangat bejad, memiliki istri dan anak berjilbab, dan juga istri kedua, yang sangat jahat, juga berjilbab, demikian juga istri lainnya. Karena itulah, "penghadiran" jilbab ini saya kira bukan soal kebetulan belaka.


Jilbab Berdosa

Dalam keseluruhan cerita di atas, seakan ingin dikesankan ketidakberdayaan keimanan untuk meredam kemaksiatan. Bahkan, secara lebih ekstrim dapat dibaca bahwa kejahatan acap lahir justru dari lingkungan orang yang paling mengerti agama. Jilbab yang disimbolkan sebagai buhul atau ladang keimanan dan ketakwaan tak berdaya, dan dosa terus saja terjadi, terpampang di hadapannya. Mereka yang berjilbab memang diceritakan mencegah --tentu hanya dengan nasihat-- dan dipastikan tidak berdaya, tidak memberi dampak apa pun, bahkan kian menyalakan api kemaksiatan. Tokoh jahat yang mendapat nasihat pasti kian mengintensifkan kemaksiatannya. Itu simbol tentang kekalahan agama ketika berhadapan dengan durjana.

Namun, kekalahan agama dihadapan durjana itu bukan pukulan paling telak dalam cerita sinetron kita. Di level selanjutnya, justru dikesankan agama dan atau keimananlah yang menjadi akar bahkan lumbung kedurjanaan. Caranya? Hadirkan perempuan berjilbab, dan kisahkan tentang kemaksiatan yang dia lakukan. Hasilnya? Sinetron Memakan Uang ONH di TransTV (8/7) sukses menampilkan hal itu. Seorang istri yang berjilbab bahkan sengaja membunuh suaminya untuk mendapatkan uang ONH. Ia bahkan memaksa anaknya mencopot jilbab agar dapat memikat lelaki kaya. Dia sendiri, menikmati selubung jilbabnya sebagai labirin untuk menyembunyikan kejahatannya dari intipan dan kecurigaan banyak orang.

Sinetron Janda Matre juga menempuh cara yang sama. Ipah (Yurike Prastika) mengenakan jilbab agar dapat memikat duda kaya, dan dalam selubung jilbab itu dia merencanakan kejahatan yang di luar nalar. Jilbab melindunginya untuk dapat bebas melaksanakan semua kejahatan yang dia inginkan. Jilbab juga membuat dia bebas berkelit dari segala tuduhan dan prasangka. Jilbab menjadi inang kejahatan, melahirkan dan mengasuh, juga melindungi keberlangsungan kedurjanaan. Sinetron Ibu Tiri Mata Duitan, Perawan Tua, dan judul lainnya, kian menegaskan tipikalitas di atas.
Ada apa dengan jilbab? Mengapa jilbab tampil dalam glamoritas dosa? Mengapa terjadi begitu banyak cerita dengan kesamaan demikian? Adakah agenda tersembunyi (hidden agenda) dari semua cerita di atas? Atau, apakah memang seburuk itu makna jilbab di mata orang banyak? Atau memang ingin dikesankan buruk? Lalu, siapa yang berusaha mengesankan begitu?

Akan lahir berjuta pertanyaan, ratusan kecurigaan menyangkut cerita seperti yang terpapar di atas. Lalu, telisikan bisa langsung mengarah pada siapa pembuat cerita sinetron demikian? Siapa sutradaranya, produsernya, pemainnya? Mengapa mereka bahu-membahu membuat cerita semacam itu? Di mana sinetron itu ditayangkan? Siapa direktur dan pemilik televisi itu? Bagaimana rekam jejak mereka? Apa agama mereka semua?

Cukup? Belum. Kecurigaan bahkan bisa melebar pada sudut yang tidak terbayangkan. Misalnya, jam berapa semua tayangan sinetron bercerita demikian? Oh, ternyata prime time dan ulang tayang di hari Minggu. Ha? Mengapa di jam itu, dan mengapa tayang ulang? Berapa rating sinetron semacam itu? Siapa yang mengukur rating? Jujurkah, atau rating sengaja ditinggikan agar terkesan acara itu populer sehingga memancing semua teve menayangkan cerita sejenis? Apa saja iklan yang masuk dalam sinetron semacam itu? Apakah iklan yang masuk nyaris sama dalam setiap kisah semacam itu? Mengapa mereka mau beriklan? Siapa pemilik produk dari iklan itu? Siapa yang menganjurkan untuk beriklan di situ? Apakah ada hubungan pertemanan atau kekeluargaan antara pembuat cerita, produser, pemilik teve dan pengiklan? Apa agama mereka? Hihihi...


Ragam Tafsir

Kecurigaan di atas memang layak lahir jika kita meletakkan jilbab sebagai ukuran keimanan seseorang. Sebagai ukuran keimanan, maka semua cerita di atas terjalin dalam ketidakwajaran. Artinya, sangat tidak wajar seorang berjilbab bisa melakukan perbuatan durjana, atau dalam sebuah keluarga sakinah muncul sosok pendurhaka dan penzina. Karena tidak wajar, layaklah penceritaan jilbab itu dimaknai sebagai suatu usaha untuk "menggembosi" dan atau memurukkan Islam.
Namun, jika jilbab hanya kita pandang sebagai identitas muslimah, kecurigaan di atas tentu tidak terlalu beralasan. Sebagai identitas, jilbab hanya berfungsi sebagai KTP, tanda pengenal, dan tidak bersangkut-paut dengan kekuatan keimanan seseorang. Sebagai identitas, jilbab sama dengan chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, hijab di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Karena hanya berfungsi sebagai identitas maka orang yang berjilbab pun tidak berbeda dengan yang memakai identitas lain. Ini soal pilihan, misalnya, antara membawa KTP, SIM, kartu pers, atau paspor.

Ahli tafsir Prof Nasaruddin Umar bahkan melihat jilbab sudah menjadi wacana dalam Code Bilalama (3.000 SM), kemudian berlanjut di dalam Code Hammurabi (2.000 SM) dan Code Asyiria (1.500 SM). Pemakaian jilbab sudah dikenal di beberapa kota tua seperti Mesopotamia, Babilonia, dan Asyiria. Jilbab menjadi pembeda antara kelas menengah dan kaum budak. Perempuan terhormat harus memakai jilbab dalam aktivitasnya di luar rumah.Perkembangan selanjutnya jilbab menjadi simbol kelas menengah atas masyarakat kawasan itu. Mengutip De Vaux dalam Sure le Voile des Femmes dans l'Orient Ancient, Umar yakin tradisi jilbab (veil) dan pemisahan perempuan (seclution of women) bukan tradisi orisinal bangsa Arab, bahkan bukan juga tradisi Talmud dan Bibel. Tokoh-tokoh penting di dalam Bibel, seperti Rebekah yang mengenakan jilbab berasal dari etnis Mesopotamia di mana jilbab merupakan pakaian adat di sana. Karena perdagangan dan pertikaian, perpindahan penduduk membuat tradisi jilbab menembus bagian utara dan timur Jazirah Arab seperti Damaskus dan Baghdad yang pernah menjadi ibu kota politik Islam zaman Dinasti Mu'awiyah dan Abbasiah. Pada periode inilah, jilbab yang tadinya merupakan pakaian pilihan (occasional costume) mendapatkan kepastian hukum (institutionalized), pakaian wajib bagi perempuan Islam.

Masih menurut Umar, Al Quran hanya menyebut dua kata untuk penutup kepala yaitu khumur dan jalabib, keduanya dalam bentuk jamak dan bersifat generik. Kata khumur (QS al-Nur/34:31) bentuk jamak dari khimar dan kata jalabib (QS al-Ahdzab/33:59) bentuk jamak kata jilbab. Dua ayat di atas merupakan tanggapan terhadap kasus tertentu yang terjadi pada masa Nabi. Akibatnya, timbul perbedaan pendapat di kalangan ulama Ushul Fikih; apakah yang dijadikan pegangan lafaznya yang bersifat umum, atau sebab turunnya yang bersifat khusus.

Ayat khimar, misalnya turun untuk menanggapi model pakaian perempuan yang ketika itu menggunakan penutup kepala (muqani'), tetapi tidak menjangkau bagian dada, sehingga bagian dada dan leher tetap kelihatan. Tafsir Muhammad Sa'id al-'Asymawi, QS al-Nur/24:31 turun untuk memberikan pembedaan antara perempuan mukmin dan perempuan selainnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi format abadi (uridu fihi wadl' al-tamyiz, wa laisa hukman muabbadan). Sedangkan ayat jilbab juga turun berkenaan seorang perempuan terhormat yang bermaksud membuang hajat di belakang rumah di malam hari tanpa menggunakan jilbab, maka datanglah laki-laki iseng mengganggu karena dikira budak. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS al-Ahdzab/33:33. Menurut Al-'Asymawi dan Muhammad Syahrur, terkait dengan alasan dan motivasi tertentu (illat) dan karenanya berlaku kaidah: suatu hukum terkait dengan illat, ketika ada illat di situ lahir hukum. Jika illat berubah, maka hukum pun berubah.

Turunnya ayat hijab, juga terkait dengan kondisi tempat tinggal Nabi bersama beberapa istrinya dan kepentingan sahabat yang akan selalu ingin menemui Nabi. Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama setelah kejadian tuduhan palsu/hadis al-ifk terhadap 'Aisyah, Umar bin Khattab mengusulkan agar dibuat sekat (hijab) antara ruang tamu dan ruang privat Nabi. Namun, kemudian turunlah ayat hijab di atas.

Nah, dari argumentasi Umar di atas, dapatlah kita lihat bahwa memang jilbab sejak awalnya tidak menjadi ukuran tebal-tipisnya iman seseorang. Jilbab hanya pembeda, suatu identitas, dan tidak mewadahi keimanan dan atau keislaman secara umum atau general. Sebagai identitas, tak ubahnya KTP atau SIM, jilbab pun bisa dipalsukan. Dengan demikian, apa yang tampil dalam sinetron di atas, juga bukanlah gambaran umum dari wajah keimanan dan atau keislaman. Otomatis juga, tidak terjadi penghadapan vis a vis antara kekalahan keislaman (general) dan kemaksiatan. Yang kalah adalah orang islam yang kebetulan memakai jilbab, bukan islam secara umum. Dan orang Islam yang kalah menghadapi kemaksiatan bukanlah kabar baru. Karena itu, cerita sinetron demikian pun jelas tidak bermutu.

Memandang jilbab dengan cara demikian, membuat kita tidak emosi dan antipati ketika jilbab-jilbab disakiti. Juga tidak merasa rendah diri, karena keislaman sesungguhnya tidak cuma terkandung dalam jilbab, dan senyatanya tidaklah selalu kalah melawan kedurjanaan.

Masalahnya, tafsir tidak selalu berdiri sendiri, pasti memiliki kawan, pun lawan. Dan jika tafsir atas jilbab berbicara lain, maka sinetron di atas pun akan dibaca dengan cara yang berbeda. Karena itulah, ada yang tertawa, diam saja, bahkan mungkin meledakkan bom di daerah sana. Karena, bisa saja, sinetron itu jadi terasa begitu menghina!